Udah Baru seminggu ini gw pake tongkat untuk membantu gw berjalan. Hidup pun terasa berbeda sekali saat kita hanya punya satu kaki yang bisa dipakai untuk jalan dan beraktivitas, dan dibantu oleh tongkat di kedua sisi kiri dan kanan. Berikut ceritanya..
Gw akhirnya merasakan betapa jauhnya labtek V ke gerbang ganesha dan terlebih ke gerbang belakang. Buktinya? Buktinya adalah gw ngerasa bener2 butuh energi yg cukup besar buat berjalan kaki dari salah satu dari kedua gerbang itu ke labtek V. Hehehe…
Gw pun akhirnya merasakan kuliah di GKU itu juga membutuhkan energi yang besar. Malah lebih besar dibandingkan berjalan kaki dari parkiran Sipil ke GKUnya sendiri. Mana anak tangganya ga abis-abis. Sampe 9121 aja keringat sudah bercucuran. Lengan atas dan kaki kiri pun menjadi lelah. Hehehe…
Lalu hal lain adalah betapa mirisnya gw yang karena lutut gw ini, ga bisa melakukan kegiatan sehari-hari dengan baik, yang jika dalam keadaan normal, dapat dilakukan mudah sekali. Seperti membuka pintu, lalu membawa kantong kresek, menelepon sambil berjalan kaki, — terlebih ngetik sms, duduk di mobil harus di sebelah kiri, naik angkot harus di depan, dan pelbagai kegiatan sehari-hari yang terlihat simpel dan mudah.Hal lain yang terasa berbeda adalah saat gw mau duduk meleseh (maksudnya duduk lesehan), dan harus melepas sepatu sebelah kiri. Itupun meminta effort yang lebih dari biasanya.
Pelajaran yang bisa gw ambil dan ingin gw share kepada kalian semua adalah, betapa vitalnya kaki kita. Kita harus menjaga sang kaki dari gangguan setan yang terkutuk, ups.. , kita harus menjaga diri tepatnya, agar tidak tertimpa kesialan-kesialan (baca: musibah), karena walaupun musibah tersebut terkesan ’simpel’ dan ‘konyol’, akibat dari musibah tersebut belum tentu juga ’simpel’ dan ‘konyol’. Contohnya, ya gw ini. Hehehe…
0 Responses to “Merasakan Hidup yang Berbeda”