Baru sempet cerita, jadi hari sabtu kemaren beberapa anak2 78 [zam, adhi, dhanuz, oboy, echa, walid, rasot, bob, dan gw] pengen sahur on the road ke lembang. Ceritanya gw diajakin zam buat ke ciater, lalu turun2 sahur di lembang. Namun ternyata karena baru tau harga berendam di ciater yang cukup merogoh kantong, walhasil kita ga jadi ke ciater. Rencana berubah jadi “Sunrise Watching” di tangkuban parahu. Setau gw tangkuban parahu baru buka pagi2 jam 6, tapi walid bilang bisa masuk subuh2 asal bilang dan tetep bayar. OK, kita berangkat.
Jam 1/2 3 pagi kita berangkat dari rumah zam di cisitu, oya, kita naik motor. Dan gw cuman pake sendal dan jaket himpunan andalan di kala naik motor malam2. Saltum [salah kostum] pikir gw pake baju kayak gitu ke tangkuban parahu subuh2. Hahaha.. 1/2 3 kita dengan 5 motor berangkat ke lembang terlebih dahulu lewat setiabudi. Jalanan kosong dan dingin pun mulai terasa di setiabudi bawah.
Terus naik dari setiabudi, lewati UPI, jalan mulai berbelok-belok. Dengan kecepatan 60-70 km/jam kami mengarungi jalanan tersebut. Gelap dan dingin tak menyurutkan keinginan kami untuk dapat sampai ke tangkuban parahu. Sekitar jam 3 pagi kami pun sampai di Lembang. Kami berputar-putar dulu untuk mencari tempat sahur yang enak. Setelah 3 kali berputar pada jalanan Lembang, kami pun memutuskan untuk makan di masakan Padang persis di depan pasar Lembang. Pasar itu sudah bangun dan pingiiran jalan sudah dipenuhi lapak-lapak penjual berbagai sayuran dan hasil alam lainnya. Kota itu sudah hidup dari malam.
Setelah kami makan sahur dengan masakan padang, yang merupakan salah satu makanan yang lagi gw idam-idamkan. Hehe.. kami pun melanjutkan perjalanan ke tangkuban parahu. Saat itu masih jam 1/2 4, dan kami memutuskan untuk langsung lanjut jalan saja ke tangkuban parahu tanpa menunggu subuh dulu. Karena kami ingin shalat subuh langsung di atas saja, kata walid ada musholla di tangkuban parahu.
Perjalanan makin sulit, udara makin dingin dan terasa hingga tulang. Jari tangan dan kaki gw mulai beku dan kaku karena kedinginan. Awalnya badan menggigil dan terasa kedinginan, namun setelah beberapa saat tidak terasa lagi karena tangan dan kaki sudah terasa beku dan mulai mati rasa. Hehe.. Gw waktu itu bawa satria gw bersama rombongan, namun gw paling belakang, dan empat motor lain terasa terlalu cepat meninggalkan gw di belakang. Mau tak mau gw pun menambah kecepatan untuk mengejar mereka, tangan dan kaki yang beku pun sudah tak terasa lagi, karena mulai ga berasa.
Sekitar 20 menit kemudian akhirnya kami sampai di gerbang masuk tangkuban parahu. Saat itu sudah mau imsak. Kami pun meminum air putih yang kami bawa dari lembang. Celakanya, tidak ada musholla di dekat situ. Dan lebih bodohnya, tangkuban parahu belum dibuka, jalan masuk utama ke atas masih di portal dan tidak ada orang sama sekali. Kami pun duduk-duduk di dekat warung yang ada di dekat gerbang masuk. Tak sampai 5 menit badan motor kami sudah berembun, termasuk helm.
Sekitar pukul 1/2 5-an kami pun mulai mencari cara untuk tetap dapat masuk dan naik ke tangkuban parahu. Ternyata, setelah walid coba menyusuri jalan sampai portal, didapati bahwa portal tersebut “bersahabat” dengan motor. Maksudnya motor dapat tetap menerobos portal tersebut.
Tanpa banyak pikir panjang, kami pun nekat untuk menerobos portal tersebut! Wihiii… Dengan perasaan sedikit deg2an karena break the rules dan sisanya rasa senang karena bisa melihat matahari terbit, kami naik mengarungi jalanan ke puncak kawah. Dan tidak lama kemudian, kami pun sampai di puncak kawah tangkuban parahu. Sunguh berbeda datang ke sana pada saat terang dibanding saat kami datang yaitu saat subuh2. Matahari belum juga muncul, namun langit mulai berubah dari warna hitam kelam menjadi warna biru yang makin terang.
Dan akhirnya matahari mulai tampak dan subhanallah.. Warna langit pun menjadi sangat mengesankan! Gw baru ngerasain ngelihat matahari terbit dan tanpa ragu kami pun foto2. Hahaha…
Setelah puas foto-foto, jam 6-an kami pun turun gunung dan kembali ke bandung. What a trip! Tapi sayangnya walid mengalami kecelakaan kecil saat jalan pulang ke lembang, motornya nyerempet motor orang dan footstep kanannya patah semua. Injekan rem belakangnya juga bengkok. Jadi dia cuma bermodalkan rem depan untuk jalan ke bandung. Hehe..
Wooogh,.
)
Pemandangannya bagus tuh,.
Ternyata di Bandung ada tempat2 kayak gitu ya,. (kurang gauL,.
Met Liburan ya,.
sunrise-nya kerennnn!!
mantaps Paw,, layak coba nih..