Adios AFC Cup!! Better luck next time!!

Sedih memang melihat pertandingan terakhir timnas Indonesia yang harus menerima kekalahan 0-1 dari Korea Selatan. Kekuatan 11 pemain di lapangan, 88.000 suporter di stadion GBK [huh,, gw padahal mau nonton di sana… T_T], dan berjuta-juta penonton di layar kaca, belum bisa mengalahkan pemain-pemain Korea Selatan yang tangguh [mungkin] karena sering minum ginseng. Hehehe… Ada teman yang menyebutkan, pertandingan tadi adalah pertandingan antara jahe vs ginseng! Hehehe…

Indonesia gagal mengukir sejarah untuk lolos ke perempat final setelah 3 kali keikutsertaannya di turnamen terbesar di Asia. Korea Selatan memang mempunyai kelas permainan setingkat di atas Indonesia, namun skor 0-1 benar-benar menggambarkan bahwa timnas kita sudah sangat total dalam bertanding.

Saya melihat bahwa timnas mempunyai permainan yang sudah berkembang dibanding timnas-timnas sebelumnya. Jika pada saat dibawahi Peter Withe, karakter permainan timnas kental dengan ‘Permainan Inggris’, yaitu dengan umpan-umpan pendek di tengah lapangan, lalu menusuk ke jantung pertahanan lawan melalui sayap dan diakhiri dengan umpan silang ke tengah di depan gawang. Sekarang, di bawah Ivan Kolev, timnas mengadaptasi formasi 4-3-3 racikan Ivan Kolev. Kekuatan timnas kita terdapat pada kecepatan serangan dan tusukan-tusukan tajam ke daerah perlawanan, namun kelemahannya adalah stamina pemain-pemain yang masih kurang dan koordinasi lini belakang yang terkadang kendor jika lawan menyerang dengan pola penyerangan melalui sayap dan rushed sampai ke dekat gawang.

Postur tubuh juga dapat dibilang menjadi suatu kekurangan, namun saya yakin bahwa dengan postur tubuh yang dikaruniai oleh Allah SWT, kendala postur tubuh dapat diminimasi dengan pola permainan yang sesuai. Dan menurut saya, pola permainan timnas sekarang sudah bagus, dan sesuai dengan karakter pemain-pemain. Namun masih ada kekurangan-kekurangan yang harus dibenahi, terutama lini pertahanan yang terasa masih kurang greget.

Salut saya berikan kepada kiper Yandri Pitoy dan Markus Horison. Terutama kepada Markus, karena walaupun cuma sempat bermain sekali, namun dia dapat menampilkan permainan yang ciamik: sigap, cekatan dan cermat. Keputusan-keputusanya dalam menjaga gawang timnas walaupun terkadang berbahaya, tapi dia dapat mengamankan bola dari terjangan pemain Korsel. Markus handal dalam duel-duel udara dan cermat dalam memotong bola. Namun terkadang dia sering berani keluar dari gawang walaupun sebenarnya kurang perlu.

Setelah melihat permainan Indonesia yang [sangat] singkat di putaran pertama piala Asia, dimana Indonesia mengalahkan Bahrain 2-1, kalah dari Arab Saudi 1-2, dan kalah dari Korsel 0-1, saya melihat bahwa permainan timnas sudah much more improved. Mulai kalem, tidak mudah terpancing, dan cukup solid.

I’m looking forward for the better timnas!! Semoga lebih baik di piala Asia selanjutnya!

About Prasetyo Andy W.
Mobile technology, social media, and other awesomeness enthusiast. Tech savvy. Software engineer. In love with photography and travelling.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: