Hot Spot di Halte Busway dan Budaya Orang Indonesia

Baru balik dari kampus, lalu gw lihat artikel ini.

Disebutlah bahwa hari ini telah diresmikan fasilitas internet dan hotspot di halte Dukuh Atas yang merupakan salah satu halte dari banyak halte transjakarta busway di Jakarta.  Melihat foto-foto bang yos mencoba menggunakan internet pada salah satu komputer dari dua komputer yang disediakan di sana, membuat saya berpikir, berapa lama dua komputer itu akan tahan, setidaknya bisa dipakai. Lain lagi cerita kalau komputer tersebut tiba-tiba hilang dicuri atau rusak.

Melihat dari “budaya” orang Indonesia yang menurut saya yang (maaf) kurang memelihara sekitar, saya merasa terobosan yang dilakukan dengan disediakannya dua komputer yang terhubung dengan internet adalah sesuatu hal yang beresiko tinggi.

Pertama, kebiasaan kebanyakan orang indonesia yang tidak pernah merawat barang yang sudah ada dapat membuat komputer tersebut menjadi mudah rusak. Kemungkinan rusak bisa karena kemasukan virus atau secara sistematikal komputer, dimana terdapat kemungkinan OS yang dipakai menjadi rusak. Atau kerusakan yang bersifat fisik, yaitu antara lain, resiko kemalingan, keyboard hancur, mouse hilang, protektor monitor rusak, ataupun stand komputer tersebut yang lenyap.

Kedua, kebiasaan kebanyakan orang Indonesia yang latah oleh sesuatu yang baru, dapat membuat komputer tersebut menjadi daya tarik baru, sehingga ramai orang yang ingin mencobanya. Jika orang ramai ingin mencobanya, maka akan terjadi antrian yang panjang, yang membuat situasi halte tidak kondusif.

Ketiga, kecenderungan fasilitas ini menjadi sesuatu hal yang mubazir. Karena jika dilihat dari kecenderungan penumpang transjakarta busway yang kebanyakan orang-orang kantoran yang sibuk dan selalu terburu-buru, fasilitas hotspot menjadi jarang dipakai orang. Saya tidak pernah melihat penumpang busway yang duduk-duduk, santai menunggu bis datang karena TIMETABLE, atau tertib dalam mengantri masuk bis. Penumpang selalu mengantri berdiri, berdesak-desakan dan tidak tertib. Jika mereka ingin sekedar connect ke hotspot dengan menggunakan PDA mereka ataupun laptop, butuh sedikit waktu tambahan untuk connect. Hal ini saja tidak bisa dilakukan jika penumpang selalu berdesakan masuk bis dan tidak tertib. Karena hotspot jarang dipakai, ditambah kegiatan perawatan sarana yang jelek, akan membuat access point yang ada menjadi ‘mayat’. Suatu hal yang sia-sia.

Namun, jika fasilitas secondary ini didukung oleh pelayanan primer yang prima, pelayanan primer yang dimaksudkan di sini adalah penambahan jumlah armada bis, teraturnya jadwal keberangkatan dan kedatangan armada pada halte dan perawatan segala sarana dengan baik, tentunya fasilitas internet pada halte ini akan menjadi hal yang sangat berguna untuk menjadi kegiatan sambilan para penumpang menunggu.

Mengapa?  Karena dengan sesuainya jumlah armada busway akan dapat menampung lebih banyak penumpang, sehingga antrian di halte tidak semrawut dan kondisi halte menjadi nyaman. Lalu dengan teratur dan pastinya jadwal keberangkatan dan kedatangan bis dapat mengurangi kepadatan penumpang menunggu. Penumpang dapat memastikan jadwal mereka masing2. Dan dengan teraturnya jadwal, tidak akan ada penumpukan penumpang dan waktu menunggu bis tidak akan timpang.

Ayo, bangun transportasi Jakarta!

About Prasetyo Andy W.
Mobile technology, social media, and other awesomeness enthusiast. Tech savvy. Software engineer. In love with photography and travelling.

4 Responses to Hot Spot di Halte Busway dan Budaya Orang Indonesia

  1. umi fadilah says:

    setujuuu! berhubung bentar lg kan pilkada gubernur jakarta yahh,,
    *yg kampanyenya bikin macet dan ga tau diri dan menyusahkan pengguna jalan itu*,,
    nah, mestinya blog lo ini dibaca para bapak2 calon gubernur kita.. hehehe😀

  2. irvan132 says:

    tapi, gw denger di berita kayaknya udah ada hidden cam buat merekam orang2 yang suka iseng. jadi jangan khawatir lah.😀

    -IT-

  3. reiSHA says:

    Aku denger hotspot itu ntar bakal dievaluasi lagi. Kalau emang guna ya bakal diterusin. Tapi iya juga siy apa komputer yang disediain di sana bisa tahan lama? Komputer di Selasar DingDong IF dulu aja sekarang entah di mana, padahal yang make adalah anak2 ITB… Nah kalo yang make masyarakat umum, yang mungkin saja iseng-iseng ngutak-atik n soon… Ntah ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: