Review Subjektif : Get Married

Senin ini akhirnya saya baru menyempatkan diri untuk menonton film “Get Married” yang dibintangi 4 bintang kocak, yaitu Nirina, Ringgo, Aming dan Desta. Film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo [sounds familiar? itu loh,, sutradara film Jomblo juga..] dan ditulis oleh Musfar Yasin [dia nulis film Nagabonar Jadi 2 juga].

Tersebutlah 4 orang sahabat yang frustasi, Mae [Nirina], Beni [Ringgo], Guntoro [Desta] dan Eman [Aming], karena menghadapi hidup yang tidak sesuai dengan cita-cita mereka dulu. Mae adalah lulusan akademik sekretaris, padahal dia ingin menjadi polwan [polisi wanita]. Beni adalah sempat belajar tanam-menanam tanaman [bukan tanam-menanam duit ato saham, hehe], padahal dia ingin menjadi seorang petinju. Lalu ada Guntoro yang ingin menjadi pelaut, tapi malah belajar komputer. Dan akhirnya ada Eman yang ingin menjadi politikus tapi malah dimasukin pesantren sama orang tuanya biar jadi kyai.

Film ini bercerita tentang perjuangan Mae untuk mendapatkan suami karena si ibunya [Meriam Bellina] dan bapaknya [Jaja Miharja] menyuruh dia untuk segera menikah. Orang tua Mae berusaha menjodohkannya dengan cowo kampung sebelah, tetapi calon-calon suami ini tidak pernah digubris oleh Mae, malahan dikerjain oleh 3 orang sahabatnya. Lalu alkisah datanglah seorang pangeran berwajah tampan berdompet tebal bernama Rendy [Richard Kevin] menghampiri dan bertemu oleh Mae. Mae pun sumringah tak tertahankan. Di saat itulah lagu “Pandangan Pertama” diputar dan sekonyong-konyong mereka berdua jatuh cinta pada pandangan ke-N [dimana N=1].

Namun terjadi suatu kesalahpahaman antara Mae dan ketiga sahabatnya ini. Yang berujung pada keogahan Rendy untuk menghampiri Mae kembali. Masalah lalu bertambah pada saat ibu Mae jatuh sakit dan meminta Mae untuk segera mencari pendamping hidup. Dan cerita pun berlanjut, ingin tahu lanjutannya? Silakan menonton di bioskop kesayangan Anda!

Film beraliran komedi ini bukan cuma komedi yang menawarkan lelucon ringan. Penonton dijamin tertawa oleh aksi dari para pemerannya, tetapi juga ada banyak kritik sosial yang terkandung di dalamnya. Sebagian besar dari kritik sosial itu saya juga setuju, namun ada satu adegan yang mengganjal, saat tersebutlah statement dari temannya Rendy yang bilang  “Lo seh, dah kelamaan di State. Lo lupa cara Indonesia”. Adegan ini muncul ketika teman-teman sekomplek Rendy ingin membalas serangan yang dilakukan ketiga sahabat Mae kepada Rendy.

Lalu adegan berlajut dan menggambarkan bahwa “cara Indonesia” yang dimaksud adalah cara primitif : Kekerasan. Di sini saya lihat dari sudut pandang Rendy, Rendy adalah seorang yang anti kekerasan. Saya pun melihat bahwa sang pembuat film ingin memberi kritik bahwa, “liat dong,, masa cara Indonesia kayak gini?!”. Tapi dari penggambaran adegan yang ada, sang pembuat film gagal membawa kesadaran bahwa kekerasan bukanlah jalan keluar. Malah hanya ingin memperlihatkan adegan baku hantam yang terlihat masif dan realistis.

Mungkin sang pembuat film lupa bahwa film atau sinetron atau apapun yang ditayangkan entah di layar kaca atau layar perak atau layar emas bahkan layar tancap sampai layar LCD serta layar plasma HDTV sekalipun, akan membawa dampak positif dan negatif. Para penonton bisa mendapatkan inspirasi atau meniru dari sesuatu yang mereka tonton.

Kembali ke film tadi.
Secara keseluruhan film ini adalah film yang lucu dan dapat mengundang penonton tertawa [ada loh film lucu tapi ga bikin yang nonton ketawa, hehehe]. Film ini juga bernilai pesan2 dan kritik. Ending yang.. hmm.. Coba tonton sendiri dan kasih komentar. Yang pasti, film ini unik. Karena ga ikut trend2 film horor sampah khas indonesia. Hehehe…

About Prasetyo Andy W.
Mobile technology, social media, and other awesomeness enthusiast. Tech savvy. Software engineer. In love with photography and travelling.

3 Responses to Review Subjektif : Get Married

  1. v i n t a says:

    ko lo ga ngajak2 si paw nontonnya??
    gw pengen bet nonton, tapi slalu keabisan tiket..akhirnya jadi males sndiri…

    btw, emg skarang byk bet film sampah….
    4 dari 6 studio di BIP, nampilinnya film horror smua…
    (eits, gw ga bilang klo film horror tuh film sampah lho ya…)
    ga tau apa klo gw takut bgt nonton film sampah gt…
    (skali lagi, gw ga bilang klo film horror itu film sampah lho…)

  2. [PaW] says:

    @ vinta :
    yah, tadi gw juga tiba2 diajakin nonton, hehe…

    film horor indonesia gw akui serem dan beberapa ada yang bagus. Tapi sekarang malah jadi ngikut2 trend kayak sinetron, dan gw mulai muak dengan itu. walaupun gw bukan pencinta film horor. Jatohnya, dari cerita pengalaman temen2 yg nonton film horor ini, banyak yg kecewa karena sampahlah, ato ini itu lah.. hehe..

    Lo bayangin minggu lalu, ciwalk XXI studio 1 adalah get merit, sisanya dendam sundel bolong, suster N sama pocong 3! hahaha…

  3. Ibun says:

    Iya, sekarang film horror banyak yang ga penting.. Apalagi sekarang SiPunjabiPembuatSinetron pake ikut-ikutan buat film horror segala. Tau apa orang India ama hantu Indonesia??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: