Berapa Lama Rekor Perjalanan Bandung-Jakarta Anda?

Ups, jangan berpikiran gw akan membahas rekor TERCEPAT bdg-jkt, ya kalo yang ini rekor gw membawa mobil jkt-bdg (bukan bdg-jkt) masih 57 menit bersih (pd. gede timur – pasteur). Rekor yang jelek ya? maklum, gw bawa mobil pinjeman, jadi serem kalo digeber abis2an.

Nah, yang mau gw bahas adalah, rekor TERLAMA yg pernah dihabiskan dalam perjalanan Bandung – Jakarta dari kosan sampe rumah (Kanayakan [dago atas] sampe Wijaya [blok M]).

Hanya dalam waktu 5 (LIMA) jam saja, saya akhirnya sampai di rumah. Gila, stres di jalan gw. Ceritanya begini, gw cabut ke jakarta jam 1/2 an tadi dari kosan dengan menebeng ume. Dan setelah ngejemput supirnya ume di x trans, baru deh kita berangkat ke jkt, waktu dah menunjukkan jam 2-an.

Berbekal rasa rindu akan Jakarta yang tiada tertahan [hmm.. hiperbolis mode : ON], kita pun semangat dalam menjalani perjalanan balik ke jakarta lagi. Apalagi gw yang udah lebih sebulan ga pulang2. Hehe..

Tapi, baru nyampe Jl. Junjunan (itu loh, terusannya pasteur n pasupati, yg ada BTC nya), kita udah dihadang macet. Setengah jam adalah waktu yang kita perlukan untuk keluar dari kemacetan tiap sore tersebut. Lepas lampu merah pasteur, jalan masuk ke tol pasteur cukup lengang. Semangat yang mulai kendur gara2 macet tadi mulai berkobar membara membakar jiwa lagi.

Lewat gerbang tol (GT) Pasteur, performa mobil jazz biru muda ditantang menerjang jalan tol yang basah karena saat itu hari sedang hujan. Dan memang, sepanjang jalan kita ketemu sama ujan mulu. Setelah lewat simpang extra joss, semangat yang membara kian membara, tapi mata mengantuk, yang membuat gw tertidur. Hehehe..

Saat gw terbangun, kita udah nyampe km 88. Hari masih hujan, gw celingak celinguk sekitar, lalu tidur lagi.. Hehehe… Pas bangun lagi, udah nyampe jatiluhur, lalu kita bertemu dengan patwal mazda 3, wew.. bagus betul tu mobil.

Perjalanan terasa menyenangkan walaupun diselimuti langit kelabu dan hujan rintik, sampai kita berada di simpang susun tol cikampek, hujan deras menyambut kami. Jalanan mulai ga keliatan, visibility menurun. Sontak mobil2 mulai melambatkan lajunya. Kondisi lalin mulai pamer paha (padat merayap pantat hangat), dan mulai tersendat di km 68. Ternyata ada tabrakan beruntun yang melibatkan 8 kendaraan di km 64. Sepertinya kecelakaan baru saja terjadi saat kami melewati mobil2 tersebut. Empat [atau lima?] mobil berada di bahu jalan, mereka ternyata ikutan tabrakan jg, tapi cuman penyok dikit di bemper, dan aktor utama kita di kecelakaan ini adalah sebuah jazz abu2, yang di-sandwich [istilah ngasal. maksudnya, ditabrak] depan belakang, bagian depan dan belakang jazz itu ringsek. Body mobil hancur sampai sekitar 35%. Di depan jazz ada sebuah mobil putih [gw menyebutnya panther, tapi kuchay bilang itu civic], yang bagian belakangnya cukup rusak juga. Di belakang jazz hadir sebuah bis antar kota, dan di belakang bis ada sebuah truk colt sedang.

Keadaan saat itu memang hujan lebat dan visibilitas di bawah 100 meter. Tidak hanya tabrakan beruntun, dari arah sebaliknya (jkt-cikampek), gw melihat ada sebuah pohon tumbang ke arah jalan, yang berhasil menutup 1 jalur. Akibatnya? Macet lah. Cukup panjang. Lalu gw jg melihat ada sebuah truk sedang yang terbalik di bahu jalan.

Gw memang lumayan sering melihat kecelakaan di tol cikampek, tapi kali ini berasa lebih serem, karena jg kondisi cuaca yang buruk.

Kondisi lalin pamer paha sampai ke GT cikunir. Lewat JORR, sampai setelah GT pd. gede timur, jalanan agak melengang. Tapi ga bertahan lama, karena saat masuk GT Halim 2, kami disambut dengan “ciri khas” kota Jakarta. Bukan banjir, tapi Macet. Macet parah… Dari sebelum gerbang Halim, sampai depan RS. Tebet, kita cuman jalan dikit2, selebihnya berhenti total. Bisa dibilang macet total atau macet parah. Soalnya bener2 puyeng gw ngeliatnya, semrawut banget, padahal di jalan tol. Gw pun berpikir, tingkat populasi anak jalanan di Jakarta membludak secara cepat setiap harinya, karena semua pengendara di Jakarta udah jadi anak jalanan. [Anak Jalanan = Anak yang hidup di jalanan, yang menghabiskan waktunya di jalanan] Hehehe… Gila, ga kebayang kalo orang2 Jakarta ngadepin rush hour gini tiap hari. [maklum, aing mah urang bandung. (padahal bahasa sunda aja masi belepotan, hehe..)]

Lepas dari pancoran, lalu lintas agak melengang, udah 2 jam lebih kita di jalan. Dan akhirnya kita ke arah buncit, karena gw bakal turun di buncit. Rencananya adalah gw turun di deket trans tv biar bisa langsung naek teksi ke arah wijaya dengan flyover. Nyatanya, tak dinyana ga ada satupun taksi kosong pada saat kita menunggu taksi. Gila… Sebanyak gitu taksi masa’ g ada satupun yang lewat. Oya, sore itu masih ujan loh…

Kalo gw ujan2an, gwnya si ga apa apa, tapi laptop dan kamera yang gw bawa? Gw dengan bodohnya ga punya payung pula. Hehehe… Setelah bosan menunggu tiada taksi yang datang, gw pun akhirnya nebeng lagi sampe perempatan buncit tendean. Pasti banyak taksi ato bajaj, pikir gw.

Dan ternyata, setelah gw turun dan berpamitan dengan ume dan supirnya (makasi kawan atas tebengannya :D), gw mulai ujan2an dengan laptop dan kamera gw. Gw mulai mencari-cari bajaj yang dibenci sekaligus diminati. Hehe.. Gw berjalan ke arah hotel maharaja. Ga dapet juga. Lalu gw berjalan kaki ke arah Bangka. Dan sampailah gw di bawah jembatan penyebrangan, dimana gw bisa berteduh sebentar. Dan akhirnya gw menemukan bajaj yang gw impi2kan akan hadir menyelematkan gw!

Huah… 10 ribu sekarang kalo naik bajaj dari tendean ke pulo raya. Mahal juga yah?

Sampe rumah (nenek), gw pun langsung mengecek kondisi laptop dan kamera gw, dan lalu gw mandi. Perut pun lapar tiada terkira.

“What a day…”, pikir gw.

Selamat Idul Adha untuk smuanya!
Dan smoga yang kita korbankan dapat memberi kita hikmah.
Buat yang menunaikan haji, semoga menjadi haji yang mabrur.😀

while (isHariTasyrik()) {
do(takbiran());
}

About Prasetyo Andy W.
Mobile technology, social media, and other awesomeness enthusiast. Tech savvy. Software engineer. In love with photography and travelling.

11 Responses to Berapa Lama Rekor Perjalanan Bandung-Jakarta Anda?

  1. jjadi pengen ke bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: