Sepuluh Ribu Sudah

Wow,, pada hari ini total hits blog ini ternyata sudah melewati angka 10.000 sejak pertama kali dipublish pada 10 Juni 2007.¬† Semoga kualitas tulisan (baca: kualitas tulisan gw) makin baik. Jangan cuman ngejar hits doang, dan kali2 terjadi booming hits karena emang kualitas tulisan yang baik, bukan karena momen menghebohkan itu. Hehehe…

Dan sejak Maret 2007, dimana gw memulai semuanya di blogspot [karena gw lupa password accountnya, akhirnya pindah ke sini, tapi sebenernya my very first blog adalah di FS], gw udah mengeluarkan 136 judul (sebenernya 137, tapi 1 kan Hello World-nya wordpress, hehe).

Oke deh.. Lanjut.. Oya,jadi mo nanya, udah berapa lamakah Anda ngeblog?

Automatically Romantic

Otomatis Romantis dalam bahasa Indonesianya. Sebuah film komedi yang dibintangi Tora Sudiro, Too Cool (a.k.a. Tukul Arwana), Marsha Timothy, Wulan Guritno, Tarzan, Dwi Sasono, dll., menceritakan tentang kisah seorang Nadia (Marsha Timothy) yang mencari cinta. Karena pada umurnya yang ke-29, Ayahnya (Tarzan) mendorong Nadia untuk segera mencari pendamping hidupnya. Nadia yang merupakan seorang pemimpin redaksi dari majalah Wanita Kini, merupakan sosok wanita karir yang getol dalam bekerja, namun masih jomblo. Dibandingkan dengan kakak Nadia, Nabila (Wulan Guritno) yang sudah mempunyai seorang putri, Aurel, dari suaminya Dave (Tukul) [gila, gw kaget ternyata Tukul jadi orang ketajiran dan songong minta ampun! Hehehe..] dan adik Nadia, Nana (Poppy Sovia) yang sudah punya cowo [yah walaupun..].

Cerita berlanjut di saat sosok Bambang Setiadi (Tora Sudiro) muncul sebagai petugas Administrasi kantor majalah itu. Berasal dari jogja, dengan logat yang kental dan pengalamannya menulis di artikel majalah pertanian, Bambang memberanikan diri bertemu dengan Nadia dan mengajukan diri agar dapat menulis sebuah artikel pada majalah yang dipimpin Nadia tersebut. Awalnya Nadia sangat men-deny sosok Bambang ini, menganggapnya rendah, dan tak lebih dari seorang bawahan, petugas administrasi tepatnya. Namun, karena Bambang yang sering muncul di ruangan redaksi, membuatnya cukup tenar di kantornya, karena dia dipanggil oleh redaksi fashion yang menyuruh dia menjadi model dadakan.

Nadia pun mulai mencoba mengenal sosok Bambang ini, awalnya karena tuntutan bahwa Bambang dipesan oleh sang pemasang iklan untuk menjadi model pada iklannya, tetapi pada akhirnya, Nadia pun jatuh hati pada pemuda aseli Jogja ini. Banyak keadaan dan kejadian-kejadian yang membuat mereka harus bersama, dan membuat Nadia benar-benar suka dengan Bambang. Tetapi pada saat puncaknya, tak diduga Bambang mengatakan kepada Nadia bahwa ia ingin menikahi Ratna, kekasih Trisno (Dwi Sasono), kakak Bambang.

Bagaimana kelanjutannya?
Bisa segera ditontonlah film drama komedi ini. Karena pada saat gw menonton pada keesokan hari setelah gw nonton Radit Dan Jani, gw merasa ga rugi nonton di Ciwalk XXI pada hari Sabtu yang notabene harga tiketnya 25.000, bukan 15.000 seperti biasanya.. Hehehehe.. Kocak banget ni film.

Radit Dan Jani

Tanggal 25 Januari lalu tepat hari kedua pemutaran film Radit Dan Jani yang dibintangi oleh Vino G. Bastian dan Fahrani. Gw, ume dan dede menyempatkan diri menonton film itu, yang merupakan suatu ketibatibaan alias mendadak. Hehe.. Kenapa? Karena awalnya kami ingin menonton Automatically Romantic alias Otomatis Romantis yang dibintangi oleh Tora Sudiro, Marsya Timothy, Tukul, Wulan Guritno, Tarzan, dll. Tetapi pada saat kami sampai di depan loket, ternyata film Radit Dan Jani yang cukup ditunggu dede sudah keluar, akhirnya kita jadi nonton Radit Dan Jani.

Film ini menceritakan tentang kisah cinta seorang Radit (Vino G. Bastian), seorang musisi yang menunggu demo tape-nya diterima label, dengan istrinya Anjani a.k.a. Jani (Fahrani). Fokus cerita ada pada bagaimana pasangan muda ini mengarungi hidup dengan segala kesusahan, kesedihan, kesenangan, denial, dan problematika finansial. Radit adalah seorang musisi yang suka menggunakan jaket kulit khas rocker pisan, dengan ketergantungannya atas narkotika dan attitude yang kurang baik. Sedangkan Jani adalah seorang perempuan yang sangat setia kepada Radit, membantu Radit (his partner in crime), dan berasal dari keluarga yang sejahtera, punya Ayah yang tidak terima dengan kondisi Radit yang tidak punya pekerjaan tetap, lalu dia punya Ibu yang sangat mengkhawatirkan anak sulungnya itu, dan punya adik yang tergambar cukup pintar dan geek.

Jalannya cerita sangat terfokus pada pasangan muda ini, tidak melebar kemana-mana dengan tokoh yang banyak. Film ini juga fokus dalam menggambarkan kesulitan mereka mengarungi kehidupan. Jani juga digambarkan sangat “terbius” oleh Radit. Jika ada suatu momentum kesedihan [hoek, bahasanya..], dimana mereka berdua menangis berjamaah, Radit yang berpikir dia tidak dapat membahagiakan Jani tetap ingin membuat dirinya menjadi satu-satunya orang yang dapat membahagiakan hidup Jani dengan mengatakan, “Suatu hari nanti.. Kita akan punya uang blablabla…”. Dan Jani pun “luluh” dengan janji dan harapan Radit. Sungguh suatu kelangkaan dimana seorang perempuan sangat sabar dan setia dalam menghadapi kehidupan yang sangat sulit.

Menurut gw ide cerita dan moral dari cerita film ini baik, namun gw merasa alur film ini terasa datar, alur yang lamban membuat ngantuk, dan sedikit diulang-ulang sampai gw bosan sendiri, karena inti permasalahannya adalah datarnya film tersebut. Baru pada saat cerita mencapai klimaks dimana permasalahan mereka mulai kompleks dan Radit mulai menyadari bahwa “he’s not the right person for her”, baru gw merasakan dinamika dari cerita ini. Sedih memang melihat keadaan mereka yang seperti tergambarkan adegan per adegan, sehingga membuat para penonton lain, terutama yang cw, ikut sedih, menangisi keadaan mereka, minimal mata mereka berkaca-kaca.

Tapi kalo buat gw dan dede? Gw menganggap tangisan di film itu adalah tangisan generasi sinetron, hehe.. No offence..

Coba film ini bisa lebih memainkan emosi penonton dan menyuguhkan dinamika, tentu kesedihan kehidupan mereka akan lebih mengena di hati para penonton. By the way, film ini tergolong unik.

Which One is Mine: the sequel

Ga cuman film yang ada sekuelnya. Setelah permainan Which One is Mine yang pertama, kini hadir sekuel dari permainan yang lebih seru daripada hole in the wall. Hehe.. Tadi siang gw parkir di belakang kampus itb, lalu ketemu “kembaran”, sehingga sekuel ini langsung terpikirkan untuk segera dibuat.

Okeh, sekarang gw beri foto yang di antara 2 motor ini adalah punya gw. Can you spot which one is mine?

Tersedia hadiah berupa ucapan selamat dan terima kasih kepada yang menjawab benar!

Kali ini ga ada pertanyaan bonusnya ūüėõ

Misteri Spion Kanan

Kemaren gw melakukan survey buat acara amazing race yang bakal diadain sama Divisi Kekeluargaan HMIF [hell yeah!], lalu di tengah perjalanan, gw, Laris, Andru, dan Adi tiba2 membahas tentang “Kenapa kebanyakan motor di Bandung cuma masang spion kanan doang?”

Nah, kami pun mulai menganalisis penyebabnya. Dimulai dari Laris, tetapi merupakan awal dari kehancuran keseriusan pembahasan topik ini. Dia bilang, “Mungkin spion kiri orang2 pada rusak gara kan kalo naik motor kecenderungan jatoh ke kirinya lebih banyak.. “. Hmm… gw berpikir, kalo gitu banyak dong orang2 yang jatoh? Lalu gw coba liat frekuensi kemunculan motor-dengan-hanya-spion-kanan-saja. Dalam 1 menit, gw menemukan 17 motor serupa! Waduh, ternyata emang banyak motor kayak gitu. Hmm..

Padahal dari segi keselamatan, spion itu berguna untuk melihat ke arah belakang samping motor, yang berguna saat motor ingin berpindah jalur atau membelok. Tapi kalo cuman pake spion kanan, yang dibengkokin pula? Belok kanan ga masalah, tapi belok kiri? Kepala harus noleh ke kiri belakang dulu jadinya. Atau main serobot aja gitu? Kayaknya main serobot aja deh, kecuali kalo lagi rame, baru noleh2.

Gw juga seorang bikers, manusia bermotor, ups.. Maksudnya manusia yang menggunakan sepeda motor untuk moda transportasinya. Sebenarnya kalo sang biker ingin pindah jalur atau belok tanpa liat spion, itu bukan suatu hal yang susah. Karena biasanya setelah nyalip mobil ato motor lain, [kalo gw] sang biker bisa membayangkan posisi pengendara yang lain di jalan itu, jadi bisa langsung serobot aja. Tapi itu ga aman, alias, bahaya, jika dilakukan oleh pemula. Hehehe.. Gw jg masih pemula sih.

Atau malah karena skill yang gw namakan “bayangkan-dan-serobot” itu tergolong mudah, makanya banyak motor yang ga pake spion. Tapi karna di bandung sering razia motor dan/atau banyak pulisinya, maka untuk cari aman, pasang aja satu spion, trus kan ntar kalo ada pak pulisi nanya spionnya mana, bisa jawab, “Tuh pak! Bisa diliat sendiri spion saya!”. Walaupun sebenarnya dia masang spion yang kecil, atau malah spion yang dipasang di selang rem depan yang so pasti ga bisa berfungsi sebagai spion yang baik sebagaimana semestinya yang diatur oleh undang-undang. [Hehe.. bahasa yang ngasal, tapi kalau ga salah sih ada undang no. 14 tahun berapa gitu ttg undang-undang perlalulintasan dkk. Sempet baca bukunya tapi blum khatam, hehe..]

Jadi gw masih bertanya-tanya, kalo mau cari aman sama polisi, kenapa ga sekalian masang dua kiri kanan aja? Biar aman buat diri kita dan pengendara lain. Atau kenapa ga masang spion yang kiri aja?

Anda bikers dengan penganut sekte cukup-pasang-spion-kanan-saja dan punya alasan lain dari yang saya sebutkan di atas? Bisa tinggalkan komentar Anda di bawah ini, biar gw tau mayoritas alasan kenapa ada fenomena ini. Hehe..

Baru Liat Laptop Kayak Gini? Baru Liat Juga Kan Macbook Kayak Gini?

Pertama kali gw liat iklan Macbook Air di situsnya, gw jadi inget kata2 di iklan M-Susu yang catchy itu. Hehe..

Macbook Air, begitulah Apple menamakan laptop super tipis dengan tebal maksimum 1.94 cm! Macbook Air tentu beda dengan Nike Air, ga ada ruang-udara-peredam-kejut-ala-Nike-di-sol-sepatu [Ya iyalah, jelas beda!]. OK, lalu laptop yang kalo lo mau beli onlen, bakal dikirim bukan pake paket, tapi pake surat biasa di dalam amplop folio itu [don’t take it seriously], diperkuat oleh prosesor intel core 2 duo 1.6 atau 1.8 GHz yang katanya ukuran chipnya lebih kecil daripada chip normal. Lalu dengan memory RAM 2GB dan hard disk 80 GB, membuat amplop, eh, laptop ini menjadi mumpuni untuk kinerja laptop standard masa kini.

Jelas macbook ini kurang cocok kalo dibuat para gamers untuk menjadi laptop berisi game2 berat nan besar [mending beli alienware ato beli desktop sekalian]. Tapi dari segi style alias gaya? Apple memang nomor satu. Sejak kehadiran iPod, produk2 Apple lainnya tersihir untuk menjadi tenar dan merasuki gaya hidup masa kini. “iPod is my style”, ato “iCan’t live without iMac” ato “Hari gini ga punya Macbook?”, hehe.. Dengan sentuhan khas ala Apple, Macbook Air terasa sangat wah dengan tebal yang seperti itu, dimana saat gw pertama kali liat juga ga percaya bisa ada laptop yang tebalnya ga nyampe 2 cm.

Seperti W880 yang mengorbankan beberapa fitur ke-walkman-annya karena mengejar tebal yang balapan sama tebalnya iPod Nano, begitu pula dengan Macbook Air. Yang paling terasa adalah dengan hanya hadirnya 1 USB port saja. Tanpa slot LAN, macbook air bisa menggunakan koneksi LAN dengan mencolokkan device converter dari LAN ke USB yang included di paket pembelian. Lalu spikernya masih mono, even though gw ga tau gimana kalo Macbook ato Macbook Pro udah stereo ato blum.

Namun dengan keterbatasan itu, Apple menyuntikkan teknologi baru pada touchpadnya, dimana sang user dapat melakukan hal2 baru dengan trackpad-nya. Tentu tanpa menghilangkan fungsi dasarnya yaitu menjadi pointer tools. Hehe.. Dengan trik2 magis,  bukan sulap bukan sihir, user dapat dengan mudahnya melakukan zoom in dan out, dan beberapa hal lain. Hanya dengan gerakan jari2mu. Jadi inget taglinenya Yellow Pages: Cari Tau, Dengan Jarimu. Hehe..

Harga? $1799. [Jangan kaget dulu..]

Dengan fitur2 ini, macbook air kurang mumpuni untuk dijadikan komputer utama, ya minimal juga punya desktop yang lebih powerful ato punya iMac ato alienware maybe ūüėõ
Tapi buat dibawa kongkow di kafe, sambil nge-wifi [which many people use their macbook to do those things], Macbook Air punya daya tarik tersendiri.

Mo liat2 lagi? Klik Disini

[gw si kl punya duit tetep milih DSLR :P]

Marka Jalan yang Dilupakan

Kemaren malem gw menyempatkan diri untuk mampir di Jakarta buat numpang tidur doang. Gw nyampe Jakarta jam 11 Malem dan kembali ke Bandung jam 7.00 pagi esok harinya. Di sepanjang jalan dari Bandung ke Jakarta, tepatnya saat gw melewati Cawang dan masuk ke Jl. Gatot Subroto, gw menemukan suatu hal yang hilang dari bentangan aspal hitam di jalan protokol itu: Marka Jalan.

Sudah cukup lama pasukan garis-garis putih itu “lenyap” dari beberapa jalan protokol di Jakarta, ada pula marka yang saling silang [tumpang tindih] yang membuat bingung para pengguna jalan. Padahal marka jalan dibuat untuk menjadi pedoman para pengguna jalan dalam berkendara, terutama untuk berbaris dalam lautan kemacetan jakarta [melihat keadaan jalanan jakarta yang… tau sendiri lah], walaupun pada akhirnya barisan mobil di Jakarta menjadi tidak rapi. Tapi sebenarnya marka jalan juga menjadi batasan atas apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di jalanan. Misalnya, garis lurus yang ga terputus, tandanya si kendaraan ga boleh menginjak garis itu, dll.

Tapi realitas yang terjadi, sepertinya pihak yang berwenang, menganggap marka hanya sebagai “lukisan” jalanan. Sehingga (mungin) mereka menganggap kehadiran marka jalan tidak penting. Tapi hal ini bisa dibilang benar juga, karena perilaku beberapa pengendara tidak menghargai marka jalan sebagaimana mestinya. Dengan seenaknya menginjak garis lurus nan tak terputus, berhenti di depan garis di lampu merah, dll.

Sehingga dengan perilaku seperti ini, nampak marka jalan tak ubahnya “lukisan” jalan. Jika marka hilang, efek nyata yang terjadi adalah keadaan posisi kendaraan yang makin semerawut di jalanan. Karena tidak ada pedoman, pengendara tidak tahu patokannya dalam mengambi jalur. Yang dapat berakibat macet yang makin parah.

Dan pernyataan “Bangsa kita adalah Bangsa yang tertib” sepertinya akan menjadi mimpi belaka.

Kalau Ada Tiang di Tengah Aisle Supermarket?

Tidak bagus menurut fengshui. Karena dapat menghambat laju rejeki supermarket anda. Hehehe..

Sebenernya gw ga tau fengshui2an, tapi menurut logika aja, kalo ada aisle di supermarket kayak gini

Bakal ngehalangin jalan si konsumennya.. Kalo di aisle-nya mah ga terlalu parah.. Tapi kalo di depan jalur kasir kaya gini?

Waduh,¬†ini¬†mah¬†salah¬†ngerancang¬†kali¬†ya?¬†Hehe…

Kawin Kontrak

Satu lagi film Indonesia terbaru yang baru gw tonton kemaren: Kawin Kontrak. Sebuah film komedi yang menceritakan 3 anak ABG, Jody, Dika dan Rama, yang baru lulus SMA. Mereka merencanakan suatu ‘perburuan’ ke sebuah desa Suka Sararean untuk mencari kembang desa untuk dikawinkontrakkan (ada ya bahasa dikawinkontrakkan? hehe..).

Mereka sudah menyiapkan ‘alat’ tempur, dari Cialis, viagra, pecut sampai karet gelang agar bisa berperang dengan kontrakkannya.¬†Setelah¬†bertemu¬†dengan¬†agennya,¬†kang¬†sono¬†(Lukman¬†Sardi,¬†wuih,¬†keren¬†lah¬†actingnya), dan berkeliling ke desa sukasararean, Jody (Ricky Harun) yang memilih Euis si janda kembang yang… wow.. berani. [gila,, berani banget ni film.. hehe..], lalu Dika (Herichan, mirip Echa loh :P) yang memilih mengontrak, ups, kawin kontrak sama Rani (Masayu Anastasia), dan Rama¬†(Dimas Aditya) yang mengejar-ngejar Isa (Dinda Kanyadewi).

Lalu¬†cerita¬†berlanjut¬†dan¬†menghasilkan¬†‘pesan¬†moral’¬†bahwa¬†kawin¬†kontrak¬†itu¬†juga¬†ga¬†bagus¬†buat¬†dilakukan.

Ceritanya kocak dan emang diambil dari fenomena yang ada. Tempat syutingnya pun katanya merupakan tempat kawin
kontrak sebenarnya. Waduh ga tau juga sih bener apa nggak. Tapi yang pasti gw suka pemandangan alam yang disuguhkan di film itu. Sawah dengan padi menguning di hamparan lembah, burung2 yang terbang bebas, rumput yang menari ditiup hembusan angin, dan kincir air yang berputar mengatur irigasi sawah sekitarnya. Actingnya memang terkesan cukup2 saja, tapi gw salut sama Lukman Sardi yang bener2 bisa membawakan perannya di satu film ke film lain. Dari 9 Naga, Pesan dari Surga, Nagabonar Jadi 2, Quickie Express, lalu film ini.

Tapi ada poin baru dari film ini, yaitu adegan-adegan yang mulai vulgar. Mulai ini ini sampai itu [ya lengkapnya bisa ditonton aja]. Lalu juga nilai minus dari film ini adalah jalan cerita yang mudah tertebak dan kebetulan-kebetulan yang dipaksakan ala sinetron untuk menyelesaikan suatu masalah. Di film ini tiba2 datang seseorang dengan gerombolan polisi yang datang tepat waktu untuk menyelesaikan simpul masalah. Singkat kata seperti itu, dipaksakan.

Film ini termasuk komedi sensual nan ringan. Cocok buat ditonton rame2an sama temen2, biar bisa ketawa lepas. Hehehe..

Dan¬†gw¬†masih¬†menunggu¬†keluarnya¬†Ayat¬†Ayat¬†Cinta…

Kein Titel

Wuih.. akhirnya badai UAS mulai berangsur pergi… Tinggal satu UAS lagi hari Senin depan. Tapi sudah terbayang rencana2 buat mengisi “liburan” sampe awal Februari ini.. Asik…

Sepertinya gw bakal banyak bermain bola [yap, ada GFL akhir Januari sampe Februari], lalu gw bakal hunting2 foto [ga sabar gw pengen hunting sambil jalan2], hunting buat iCup [ayo vin, demi $ 8500 dan Paris! hehehe..], mungkin ada beberapa kerjaan, lalu nonton MCR [hell yeah!], nyari2 tempat KP [duh, blum ada balasan dari sang HRD], gw pengen kumpul2 lagi ni sama temen2 SD, SMP, dan SMA.

Dan dalam waktu senggang ini gw bakal kembali rajin mosting di blog ini. Maapkan daku yang tak pernah mengupdate blog..
Hehe..

Selamat liburan smuanya!
Slamat¬†Tahun¬†Baru¬†Hijriyah¬†juga!¬†ūüėÄ