If I Can Jump Around The World Like a Jumper

Kalimat ini langsung terpikirkan oleh gw saat selesai menonton film Jumper. Sebuah film action yg juga sci-fi ini dibintangi oleh Hayden Chirstensen, Jamie Bell, Samuel L. Jackson, Rachel Bilson, dan Annashopia Robb ini berceritakan tentang seorang David Rice yang punya kekuatan untuk men-teleport dirinya kemana saja yang ia mau, asalkan dia punya jumpsite ke tempat itu. Awalnya dia tidak dapat mengontrol kekuatannya ini. Pada umur 15 tahun, david terjeblos ke dalam es saat ingin mengambil bola kristal milik Millie. Di saat David berjibaku dengan dinginnya air, kuatnya arus dan lapisan es di atasnya yang tidak bisa dipecah agar bisa keluar lagi. Tiba-tiba dia “berpindah” ke suatu perpustakaan. Kontan David pun kaget karena tiba-tiba dia ada di perpustakaan, namun dengan kondisi badan dan sekelilingnya basah.

Mulai dari kejadian itu, dia mulai mencoba mengontrol kelebihannya ini. Dia pun pergi meninggalkan Ayahnya, dan pindah ke New York. Dia mulai mencoba membobol brankas bank. Dia tidak menjadikan dirinya seorang pencuri dengan gembong mafia. Namun dia mengambil beberapa (baca: banyak) tumpukan uang dari brankas itu.

Singkat kata dia bisa membeli sebuah apartemen mewah di Manhattan dengan interiornya mewah.

Namun gelagat seorang Jumper ini diendus oleh seorang hitam kelam berambut putih bernama Roland. Suatu saat mereka bertemu di apartemen David. Ternyata Roland ingin menangkap David, tapi Roland bukanlah seorang polisi. Namun pemburu Jumper. David pun dapat meloloskan diri, namun Roland pun tetap mengejarnya. Bagaimanakah kisah kelanjutannya? Karena gw ingin meminimalkan spoiler, jadi ceritanya disudahi sampe sini aja. Hehe..

Overall cerita ini punya efek visual yang “WAH”. Sebagaimana layaknya film-film hollywood yang punya ahli efek visual yang handal dan didukung teknologinya. Lalu film ini mempunyai latar tempat yang “luas”. Mengapa luas? Karena New York, London, Roma, Tokyo, Mesir, Dubai, Sebuah gurun luas, Sebuah iceberg seperti di Kutub Utara, Sebuah tempat Hutan Hujan, Dubai, sampai (kata ceritanya) Fiji. Tapi kalo menurut gw, yang sepertinya memang “real” dimana mereka memang syuting di sana hanya di New York, Roma dan Tokyo. Selebihnya CG, tapi ga tau jg deh. Agak susah membedakan CG dan asli untuk film2 Hollywood. Namun dari luasnya tempat, nampak ada blunder (sepertinya begitu), karena saat di Tokyo, David dan temannya menaiki sebuah Mercedes Benz coupe (SLK kalo ga salah) yang punya setir di kiri! And as you know that di Jepang mobil berjalan di kiri.

Namun kekurangan dari film ini, gw merasa konflik-konflik yang ada terlihat “gampang” diselesaikan, tiba2 yang ini menang dan yang ini kalah. Karena durasi film yang tergolong singkat (88 menit), gw pun berpikir dalam hati, “Yah, segini aja? Baru juga menikmati..”, hehe..

Tapi disamping kekurangannya tadi, film ini gw bilang bagus untuk ditonton! Hoho..

About Prasetyo Andy W.
Mobile technology, social media, and other awesomeness enthusiast. Tech savvy. Software engineer. In love with photography and travelling.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: