Selamat Idul Fitri 1430H

Puasa Sekedar Strategi Pemasaran?

Pertama-tama, maafkan saya jika judulnya terkesan “keras” ataupun sok pinter, tapi ini yang saya rasakan akhir-akhir ini. Kedua, post ini tidak ada hubungannya dengan ilmu pemasaran ataupun ekonomi ataupun ilmu-ilmu lainnya, apalagi kalau ilmu hitam, hehe..

Begini ceritanya, beberapa kali saya berbuka puasa di tempat makan, let’s say restoran dan semacamnya. Karena dari tahun ke tahun biasanya buka di kosan dengan seadanya, sekarang pengen mencari suasana baru dengan berbuka di luar. Pada satu kesempatan, saya berbuka dengan teman-teman saya di sebuah restoran di bilangan Jl. Trunojoyo, Bandung. Di tempat makan itu seperti kebanyakan restoran, mereka menyediakan free ta’jil (kenapa ga sekalian free makanan yah :P). Diiringi lagu2 islami, dari jam 5 sampai maghrib saya nongkrong di sana menunggu buka, yang terdengar adalah lagu-lagu islami. Saya berpikir,”wow, hebat juga sekarang di mana-mana shopping center dan restoran nyetel lagu2 islami”.

Lambat laun, restoran tersebut mulai ramai oleh pengunjung yang ingin berbuka di sana. Jam 6 kurang sekian menit, dari pengeras suara pun dikumandangkan azan yang di-streaming dari radio lokal. Alhamdulillah, saatnya kami berbuka pada saat itu. Saya pun memakan free ta’jil tersebut hingga habis, dan setelah ngobrol-ngobrol panjang namun makanan tak kunjung tiba, saya pun ingin shalat maghrib dulu.

Naasnya, salah satu teman dari kami, Jason, bilang kalau ga ada musholla di restoran itu. Tempat shalat ada, tapi sekelilingnya kotor dan terpencil serta kecil banget, dia bilang seperti itu. Sehingga Jason pun tadi pada saat mau shalat ashar, dia shalat di mobil karena dia rasa tempat shalat yang ada tidak memadai. “Gila”, pikir saya waktu itu. Restoran bagus, musik latar yang disetel lagu islami, dapat free ta’jil pula, tapi tempat shalat ga ada?!

Saya (waktu itu juga bareng winda) pun minta diantar Jason ke tempat shalat yang dia bilang ga banget tadi. Ternyata tempat shalatnya ada di ruang loker pegawai, yang ada di ujung belakang gedung, yang cuma muat 2 buah sajadah. Lantai untuk shalat memang lebih tinggi 10 centimeter dari lantai yang lain, namun pada lantai yang lain ini terlihat jelas jejak-jejak sepatu kotor. Kalau mau wudhu pun di kamar mandi yang terletak di sebelah ruang loker tadi, dengan kondisi yang seadanya.

Mau ga mau, kami pun shalat di sana. Bayangkan yang datang berbuka di restoran itu ada hampir 100 orang, dengan waktu maghrib yang sesingkat itu, namun tempat shalat yang ada hanya muat 2 orang. Setelah saya shalat, saya melihat sekitar dan berpikir, orang sebanyak ini buka puasa pada bisa shalat ga ya?

Gimana yah, yang terpikir pada saat itu, dengan (tetap) diiringi musik latar lagu islami, ini kok orang buka puasa yang dikasih cuma free ta’jil dengan makanan-makanan enak, tapi ga dikasih fasilitas tempat shalat yang memadai, yang jelas-jelas wajib dilakukan selain membatalkan puasa.

Di kesempatan yang lain, saya sempet makan di sebuah tempat makan di daerah Dago, di sana malah azan hanya di-streaming via radio sampai lafal “Asyhadu anna muhammadarrasulullah”. Minimalis. Sekedar terdengar “Allahu Akbar”, dan berbukalah kalian, begitu pikir saya. Setelah streaming azan tadi dipotong, langsung dilanjut dengan lagu islami. Memang ada keharusan nyetel lagu islami bagus2, tapi untuk sekedar streaming azan aja dipotong dan minimalis begitu. Ckckck…

Ada lagi di tv (baca: infotainment), dapat kita lihat, banyak musisi yang berlomba-lomba membuat album rohani menyambut puasa. Di satu sisi saya menyambut baik, ah, ga apa apa lah sekali-sekali semua band membuat lagu rohani. Tapi di lain sisi, saya berpikir, “Ah, aji mumpung aja, mumpung bulan puasa, sekalian aja buat album, lumayan pasang aja satu hit single, lalu banyak orang pasang RBT dan beli album, duit pun bertambah”. Sungguh subjektif memang opini ini, tapi saya ada orang-orang di luar sana yang mempunyai pemikiran yang sama dengan opini saya ini, hehe.. Ya dimaafkan saja kalau ada yang tidak berkenan. πŸ˜›

Mungkin ini sedikit uneg-uneg saya, semoga lagu-lagu islami yang dibuat oleh musisi kita untuk menyambut bulan ini memang menjadi salah satu bentuk ibadah, bukan sekedar aji mumpung, mudah-mudahan juga tidak memadainya tempat shalat tadi bisa diperbaiki pada kesempatan yang lain. Hehe.. Dan semoga kita beribadah, karena memang kita ingin beribadah kepada-Nya, bukan kepada yang lain πŸ™‚

Penyembunyian Pesan pada Citra GIF Menggunakan Metode Adaptif

Setelah berjibaku mulai Desember tahun lalu, ini lah abstraksi dari tugas akhir yang saya buat, ada perangkat lunaknya juga lho πŸ˜€

Steganografi merupakan ilmu dan seni yang mempelajari teknik dan cara penyembunyian pesan rahasia ke dalam suatu media sedemikian rupa sehingga pihak ketiga tidak dapat melihat dan menyadari keberadaan pesan rahasia tersebut. Tugas Akhir ini membahas studi mengenai bagaimana steganografi pada media citra digital.

Citra digital yang digunakan adalah citra berformat GIF. Citra GIF adalah salah satu format citra yang banyak digunakan dewasa ini. Steganografi pada citra GIF memiliki dua buah jenis metode, yaitu metode non adaptif, dan metode adaptif. Metode adaptif adalah salah satu metode steganografi, dimana pada proses penyisipan pesan, metode ini mengkorelasikan modifikasi nilai piksel sesuai konten pada citra. Sehingga perubahan kualitas citra yang terjadi setelah proses penyisipan tidak signifikan.

Terdapat juga sebuah perangkat lunak yang dihasilkan, yang memiliki fungsi utama untuk melakukan steganografi pada citra GIF menggunakan metode adaptif. Perangkat lunak menggunakan kunci yang dibangkitkan oleh pembangkit bilangan acak semu, yang digunakan pada proses penyisipan dan ekstraksi pesan.

Sekarang tinggal berlibur dan menunggu lebaran tiba, hehe.. πŸ™‚

Fail!

Sabtu kemarin setelah sahur saya langsung berangkat ke jakarta dari bandung menggunakan x-trans, karena jam 8 saya sudah harus ada di jakarta untuk ujian les bahasa jerman di goethe jakarta. Sekita jam 4.30 saya sampai di bumi x-trans di cihampelas, membayar tiket, lalu menunggu keberangkatan di ruang tunggunya.

Di kursi tunggu tergeletak koran pikiran rakyat hari jumat kemarinnya, lalu saya baca sejenak. Berita yang diwartakan masih berkisar tentang gempa bumi tasikmalaya. Lalu saya bolak balik ke halaman-halaman selanjutnya. Dan.. Pada surat pembaca saya melihat sebuah ilustrasi berukuran besar pada sebuah surat pembaca, sungguh disayangkan mereka dengan percaya diri salah menentukan antara mana yang merpakan kata depan dan mana yang merupakan imbuhan.. Padahal koran tersebut termasuk koran yang besar di jawa barat..

Post Blog Menggunakan WordPress for BlackBerry ver. 0.9.0.149

Nah, akhirnya setelah mencari-cari update aplikasi wordpress for blackberry (disingkat WfB saja biar hemat) yang baru, akhirnya pada versi 0.9.0.149, aplikasi ini mendukung layer komunikasi BIS (BlackBerry Internet Service). Dimana di versi-versi WfB sebelumnya belum mendukung koneksi menggunakan BIS, masih mengandalkan WiFi.

Setelah kemarin mencoba posting menggunakan email, yang sepertinya agak sulit kalau kita mau menambahkan gambar ke post entry. Sekarang menggunakan aplikasi WfB ini semoga bisa lebih nyaman lagi.

Oya, bagi yang mau mendownloadnya, aplikasi ini tersedia secara OTA (Over the Air) di link di sini.

Bagi yg belum tahu, OTA adalah istilah untuk aplikasi yang bisa diunduh langsung dari handheld blackberry menggunakan browser.

Segini saja dulu, nanti dilanjut lagi dengan post yang lain πŸ™‚

Coba2 Post Blog via E-Mail

Wah, sudah lama tidak menyentuh blog ini, dan sekarang setelah melewati waktu2 hectic mengejar sidang, waktu luang saya bertambah secara linier.

Post sekarang tidak panjang-panjang, sekedar mencoba post blog via email. Oh iya, by the way? Ada yang punya ide bagaimana mengirim post blog wordpress via blackberry?

Saya pernah memakai aplikasi wordpress for blackberry, tapi sepertinya masih belum bisa, any thoughts? πŸ™‚

Prasetyo Andy Wicaksono