Susahnya Jadi Orang Tertib

Tertib. Susahnya hidup menjadi orang tertib di sekitar sistem dan lingkungan yang tidak tertib.

Bayangkan, di saat kita mencoba tertib di jalan, lihatlah ke sekitaran. Pengendara motor dan mobil tiba-tiba buta warna melihat traffic light. Merah mereka jalan, dan saat lampu hijau menyala, mereka berhenti. Pengendara yg berhenti saat lampu merah menyala mereka klakson, sungguh bodoh. Lihatlah lagi para pengendara motor, mereka terlihat begitu tidak sayang nyawa mereka. Nyalip seenak jidat, helm cuma jadi pajangan di rumah, spion pun dianggap mengganggu, sehingga tidak dipasang. Apalagi kalau sudah malam, lampu kendaraan tidak dinyalakan, mungkin mereka sudah pakai night vision goggles, jadi merasa tidak perlu menyalakan lampu. Adalagi mereka suka melawan arus, dan lebih parah, dikombo dengan tidak menyalakan lampu, ada satu ketika saya kaget ada motor di depan saya yg melawan arus dan tanpa lampu, mereka benar2 nyari mati.

Sekarang coba kita lihat ke lahan parkir. Aturan-aturan mengenai arah jalan dapat dengan mudahnya dilanggar, seperti yg kita ketahui mencari parkir di Jakarta memang sulit, dan kalo kita tertib mengikuti peraturan, pasti parkiran kosong sudah dilibas oleh orang lain yang melawan arah -___-

Lalu setelah kita parkir, yuk jalan-jalan di mall. Satu ketika, coba kita lihat banyak orang-orang yang tidak mau mengantri dilayani atau saat membayar di kasir. Anehnya, kalau di mall besar, mereka bisa antri, tapi coba kita bergeser sedikit ke mall yang lebih kecil, orang yang sama bisa jadi tidak mau mengantri. Saya jadi teringat cerita tentang penumpang air asia jakarta-bangkok PP. Dulu kan kalo mau naik air asia harus “rebutan” kursi, sehingga saat di terminal pun mereka sudah mulai rebutan, tidak mau antri. Di cengkareng, mereka rebutan tak mau ngantri, tapi saat di boarding dari bangkok untuk flight kembali ke jakarta, mereka bisa antri! Sama halnya dengan mall. Jelas kita sebenarnya mau menjadi tertib, tetapi mengapa sulit sekali? Mana ada yg mau buang sampah sembarangan di pacific place? Coba setelah itu kita ke ITC, dengan mudahnya orang2 yang baru ke pacific place tadi membuang sampah sembarangan.

Jalan raya tak ubahnya lahan berdosa. Dosa menzolimi jalan orang lain, dan di lain sisi, dosa memaki-maki para orang2 bodoh tadi.

About Prasetyo Andy W.
Mobile technology, social media, and other awesomeness enthusiast. Tech savvy. Software engineer. In love with photography and travelling.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: