Toshiba Libretto W100 Dual Touch Screen, Japanese Answer to iPad

Ya, ini dia prototype terbaru dari Toshiba. Netbook dengan dual 7-inch multitouch screen dengan sistem operasi Windows 7 bernama Libretto W100. Ini bukan foto animasi, namun sudah ada hands-on previewnya di beberapa situs, dan salah satunya ada di bagian bawah post ini.

Prototype ini merupakan bagian dari peringatan 25 tahun inovasi laptop Toshiba. Walaupun masih merupakan konsep, tapi produk ini sudah siap dipakai (buktinya sudah bisa menjalankan windows 7 dan siap untuk dipasarkan). Menurut salah satu video wawancara scobleizer.com dengan pihak Toshiba, netbook futuristis ini akan dilansir tahun ini dalam jumlah terbatas, namun Toshiba belum menentukan harga jual dari gadget terbaru ini.

Read more of this post

Advertisements

Belajar Membuat Screen Cast

Aloha,

seperti diketahui di jaman serba online ini, ilmu bisa didapat dari sudut manapun di dunia ini (atau bisa dibilang sudut mana pun dari setiap server di dunia :P). Mempelajari sesuatu hal yang baru bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari otodidak, sampai mengikuti kursus. Keadaan sekarang, menurut saya, menuntut kita untuk bisa belajar secara otodidak. Mulai dari mencari ebook sampai mencari tutorial dan how-to di internet. Dan sampailah kita di era dimana kita belajar dari video. Video yang berisi screen capture dari layar monitor sang tutor, dan dengan tambahan suara dari sang tutor, sehingga orang yang mempelajari via video, yang disebut screen cast, mengerti.

Ceritanya begini, ada seorang teman yang menanyakan saya bagaimana cara meng-export dan import file mp3 pada aplikasi audacity, aplikasi sound editor yg gratis, namun cukup powerful. Ada beberapa cara untuk membuat teman kita itu mengerti step by step:

1. Mengobrol, tanpa komputer.

+ simpel, tanpa membutuhkan alat-alat apapun
+ dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja
– sulit untuk dibayangkan, biasanya untuk step-step yg rumit dan tidak common
– hanya mudah di kalangan user yang sudah ‘gape’ dengan aplikasi tersebut
– bisa lupa, dan lalu saat prakteknya, pasti harus bertanya lagi untuk pencerahan lebih lanjut

2. Via messaging/email.

+ sekuensial dan saklek
+ tidak akan lupa step by step, wong jelas ada tulisannya
– sulit untuk dibayangkan bagi beberapa orang
– orang-orang dengan prinsip seeing is believing akan kesulitan

3. Mengobrol langsung, dengan komputer.

+ langsung bisa praktek
+ kalau stuck, bisa langsung dicari solusinya
+ mudah untuk problem solving bagi orang2 yang harus menerangkan dan diterangkan dengan media
– harus di-spend waktu khusus, dan tempat khusus (ga mungkin kan di terminal buka laptop? :P)
– untuk orang yang menerangkan dan tidak sabaran, ujung2nya yang mraktekin si orang yg menerangkan, karena yg diterangkan ga ngerti2 😛

4. Screen cast

+ Seeing is believing, step by step jelas
+ Seperti mengobrol langsung, dengan komputer
+ Tidak harus repot2 janjian ketemuan, dan nunggu waktu janjian untuk diterangkan sesuatu, pas untuk problem2 yang mendesak
– Butuh koneksi internet (yg ga lemot sehingga buffering time bisa diminimalisir, bahkan dihilangkan)

Nah, dari keempat dari banyak cara, saya memilih membuat screen cast, hitung-hitung iseng membuat rekaman sehingga kalau ada yang menanyakan hal yang sama, teman tersebut tinggal lihat screen cast video di internet. Hehe..

Karena belum pernah membuat screen cast, saya tidak tahu aplikasi yang pas untuk membuat screen cast dengan kualitas yang bagus. Saya gugling, dan mendapatkan beberapa aplikasi:

  • CamStudio
    CamStudio gratis alias freeware. Bisa merekam suara juga, kualitas video dan audio bisa diatur. Hasil video disimpan dalam format avi (.avi) dan mempunyai built-in swf creator. Bisa membuat annotation dalam bentuk gambar atau video. Windows only.
  • AviScreen
    AviScreen merekam dalam bentuk avi, tapi tidak bisa merekam audio. Windows only. Tapi gratis 😛
  • Copernicus

Copernicus adalah aplikasi untuk Mac yang dibuat untuk membuat user bisa membuat video dengan cepat dan mudah dengan cara menyimpan rekaman video ke dalam RAM untuk akses yang lebih cepat. Namun tidak bisa merekam audio.

Masih ada lagi sebenarnya aplikasi yang lain, seperti Adobe Captivate, Jing, Wink, SnagIt, dan lain-lain. Namun Captivate dan SnagIt setahu saya berbayar, dan saya terlanjur jatuh hati menggunakan CamStudio, yang gratis dan cukup powerful.

Walhasil kemarin malam saya merekam screen cast menggunakan CamStudio. Hasilnya bagus, saya bisa langsung merekam step by step jawaban dari pertanyaan teman saya itu, dan lalu rekaman tersebut saya upload, sehingga kalau kalau nanti ada yang perlu, bisa dicari dan dimainkan. Hehe..

OK, segitu aja dulu, saatnya kembali bekerja.. 🙂

Puma Phone

Mungkin sekarang sudah jamannya setiap merk fashion mengeluarkan produk telepon selulernya masing-masing. Yang dulu awalnya hanya menjadi partner saja, contohnya razr versi D&G, atau yg lainnya, sekarang tidak lagi. Merk fashion bisa mengeluarkan produk telepon seluler juga! Contohnya Puma yang baru saja mengeluarkan Puma Phone.

Handphone ini sebenarnya dibuat oleh SAGEM (ini baru nama perusahaan produsen hape), yang dibuat atas kerjasama Puma dan Sagem. Puma Phone menggunakan OS sendiri, jadi tidak menggunakan OS yg sudah ada seperti windows mobile, palm OS, iPhone OS, blackberry OS, symbian, atau yg lainnya. Satu hal yang paling menarik dari adalah, Puma Phone menggunakan solar panel charger di sisi belakang handphone yg berguna untuk me-recharge baterai handphone. Sounds so eco-friendly 😛

Navigasi layar sentuh yang tidak sehebat iPhone tidak mengurangi citarasa sporty dan lifestyle yg menjadi brand image Puma. Banyak fitur-fitur menarik yang terdapat pada Puma Phone. Fitur-fitur ini dibagi menjadi 2 kategori, yaitu Sport, dan lifestyle. Pada kategori sport, terdapat fitur speedometer yg berguna saat bersepeda. Lalu ada juga animated compass yang berguna, tentu untuk mencari posisi utara bumi, hal ini berguna saat sailing. Selain itu ada juga fitur GPS, untuk mengetahui koordinat kita di bumi. Ada juga fitur stopwatch dan timer, dan hal unik dari timernya adalah, timernya berbentuk jam pasir, dan bercitarasa vintage.

Di kategori lifestyle, selain fitur-fitur standar seperti messaging, video phone, dan web browser, ada juga fitur DJ! Fitur Disc Jokey ini memperbolehkan pengguna puma phone untuk bergaya bak DJ, scratching bukanlah hal yg sulit dilakukan di fitur ini. Selain itu terdapat sebuah portal puma, yang berisikan segala informasi tentang lifestyle, social networking, dan lain-lain. Informasi-informasi ini dihimpun dalam sebuah dynamic rich media feed, yang berisikan gambar dan video serta artikel-artikel yang diberikan. Juga bisa dilihat berita-berita olahraga, serta tweeting dari portal ini.

Rencananya puma phone akan dirilis April 2010 dan dijual dalam kontrak provider telepon seluler. Tapi dapat juga dibeli tanpa kontrak, dan diperkirakan berharga di bawah 400 EU. Berminat?

Review JGraph

Kali ini saya akan mencoba sharing pengalaman saya menggunakan library JGraph yang saya pakai dalam pembangunan aplikasi saat KP, yaitu GUI workflow definition.

JGraph adalah sebuah library java [tentunya open source] yang berguna untuk memvisualisasikan graph dengan menggunakan swing design patterns pada lingkungan java. Library ini berguna dalam pembangunan aplikasi yang mengedepankan visualisasi graf, seperti workflow editor [seperti yang saya dan teman-teman buat], flowchart, VLSI dan CAD, business process modelling, entity relationship dan diagram-diagram lainnya.

Read more of this post

Racing Simulator Buat Maniak Game Racing

Racing Simulator Buat Maniak Game Racing

Punya titel “Maniak Game Racing”. Game seperti Gran Turismo, NFS, Ridge Racer dan segala game racing lainnya, udah tamat, tapi main game balapan cuman pake stir biasa? Atau paling bermodalkan controller biasa? Pasti berasa kurang lengkap kan?

Read more of this post

Membuat Harddisk Satellite M40 Menjadi Harddisk Eksternal

Setelah baca-baca yang ini, sekarang gw mau cerita tentang cara membuat harddisk laptop [terutama Satellite M40, sang laptop gw yang lawas] menjadi harddisk eksternal. Proses ini terbagi menjadi 2 tahap besar, yaitu membongkar tempat harddisk di laptop, lalu tahap memasang harddisk laptop ke casing eksternal.

Read more of this post

HTML to PDF Converter – Hasil Pemerkosaan PPL

Hwe.. emangnya iqbal doang yang bisa ngepost serial hasil pemekorsaan PPL. Gw juga aah..

Kali ini gw mengeksplor bagian converter HTML to PDF. Jadi aplikasi OSAMA yang kami buat, ada semacam fitur yang memperbolehkan sang user menyimpan halaman web ke dalam bentuk pdf. Gw coba googling untuk mencari library atau semacamnya yang berguna. Lalu jawaban yang terbaik dari mbah google adalah menggunakan PD4ML, sebuah library yang salah satu fungsi utamanya adalah dapat me-render halaman web ke dalam PDF dalam bahasa java. Selain itu gw juga menemukan iText yang merupakan sebuah library untuk men-generate PDF dengan bahasa java.

Gw coba eksplor keduanya, tapi awalnya gw coba utak atik iText karena open source, lain dengan PD4ML yang bayar, namun ada juga versi gratisannya. Ternyata iText gw rasa terlalu “dasar” jika dibandingkan dengan kebutuhan gw, yaitu halaman web to PDF converter. Walhasil gw “menyerah” dan mencoba PD4ML yang “siap saji”, dengan menggunakan versi gratisannya [FYI, kalo dari FAQs-nya, PD4ML gratis cuman beda dikit sama yang bayar. Pada PD4ML yang gratis, bakal ada semacam watermark bahwa PDF itu generated pake PD4ML. Kalo ga salah itu aja perbedaannya]

Read more of this post

Derita Punya Bandwidth Kecil

Kemarin gw dapet kabar dari suatu milis, lalu gw mencari “kebenaran” kabar itu di beberapa situs. Gw pun mendapatkan suatu kabar menarik, NetBeans 7.0 bakalan jadi Online IDE!

*Padahal NetBeans 6.0 buat deploy web application aja udah cukup menyiksa laptop T_T*

Makjang.. Trend perubahan software yang desktop based ke web based yang gw pernah perkirakan ternyata makin menggila perkembangannya. [agak berlebihan sepertinya]

Read more of this post

Safari on Windows XP

Safari on XP

Kemaren malam gw baru dapet informasi tentang diluncurkannya browser Safari di platform windows. Padahal seperti yang kita tahu, safari adalah browser bawaan di mac os. Karena softwarenya juga gratis, maka gw langsung mendownloadnya untuk menjajal browser ini. Apple sebagai produsen dari browser baru ini mengklaim bahwa safari, dalam hal ini versi 3.1, punya performa kinerja yang lebih cepat ketimbang internet browser yang lain, seperti Windows Internet Explorer (IE) 7, Mozilla Firefox 2 dan Opera 9. Jika ditilik dari situs safari, untuk performa dalam memroses (termasuk me-load) halaman HTML, safari lebih cepat 2x (2.09 detik) dibanding posisi kedua Firefox 2 (3.62 detik). Posisi ketiga adalah IE 7 (4 detik) dan terakhir opera 9 (5.95 detik). Dalam pemrosesan javascript, safari punya performa yang sangat cepat ketimbang 3 kompetitornya ini. Safari me-load JS dalam waktu 0.36 detik. Diatas opera 9 (0.88 detik) dan jauh lebih cepat ketimbang Firefox 2 (1.5 detik) apalagi IE 7 (2.18 detik). Data ini didapatkan dari situs safari. Gw sendiri tidak mencoba untuk mengetes performa tiap browser perihal kecepatan me-load suatu halaman 😛

Read more of this post

Eee(k)!

Kurang tertarik dengan EEE PC yang hanya punya layar sebesar 7″, dengan resolusi 800 x 480, dengan storage 2 – 8 GB saja?

Setelah berjalan-jalan di dunia maya, saya mendapat informasi bahwa akan ada suksesor dari EEE PC generasi pertama, yaitu EEE PC 900.

Read more of this post