Museum Sejarah Jakarta

Kemarin saya dan teman-teman menyempatkan diri untuk berjalan-jalan ke kota tua Jakarta. Sebuah keinginan saya dari dulu untuk pergi ke sana, tapi selalu kandas karena malas bermacet-macetan di jalan. Mumpung lagi libur lebaran dan jalanan Jakarta sedang bersahabat, maka kami pun berangkat ke sana.

Sampai di sana, tak lupa kami menyempatkan diri untuk masuk ke museum sejarah Jakarta, atau dikenal juga dengan nama museum fatahillah. Dengan membayar Rp. 2000 saja (untuk umum, mahasiswa Rp. 1000 dan pelajar Rp. 600), kita dapat menjelajahi gedung bersejarah yang punya koleksi dari era prasejarah. Pengunjung juga diberi booklet, dan ini dia isi bookletnya.

Read more of this post

Advertisements

Tips Menyetir Antar Kota Sendirian

Menyetir antar kota adalah sebuah aktivitas yang membutuhkan konsentrasi penuh, karena perjalanan antar kota kita tahu sendiri akan berhadapan dengan berbagai kendaraan dengan watak pengendara yg bermacam-macam. Dari sepeda ontel atau becak yang membawa hasil panen, hingga truk tronton pembawa traktor. Tentu memiliki tantangan serta resiko yang cukup besar. Apalagi jika kita berkendara sendirian. Kalau berdua atau rame-rame tentu kepenatan di tengah jalan bisa di-share sambil mengobrol bersama teman, setidaknya saat beristirahat di rumah makan atau spbu misalkan, bisa sambil bersenda gurau dengan teman.

Bagaimana kalau sendirian? Ngobrol sendiri tentu susah, kecuali kita punya alter ego atau teman imajiner. Perjalanan tentu akan sepi dan membosankan. Lalu rasa bosan dicampur lelah bisa menyebabkan ngantuk, dan ini berbahaya karena dapat mengundang maut.

Jika terjebak di kondisi bahwa kita harus berkendara sendiri, bagaimana kita menanggulangi rasa ngantuk, bosan, kesepian, kegundahan hati serta rasa kesal melihat truk2 lambat tidak mau memberi jalan?

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, dan yang terpenting adalah persiapan dan langkah-langkah yang bisa diaplikasikan, yaitu..

Read more of this post

Puasa Sekedar Strategi Pemasaran?

Pertama-tama, maafkan saya jika judulnya terkesan “keras” ataupun sok pinter, tapi ini yang saya rasakan akhir-akhir ini. Kedua, post ini tidak ada hubungannya dengan ilmu pemasaran ataupun ekonomi ataupun ilmu-ilmu lainnya, apalagi kalau ilmu hitam, hehe..

Begini ceritanya, beberapa kali saya berbuka puasa di tempat makan, let’s say restoran dan semacamnya. Karena dari tahun ke tahun biasanya buka di kosan dengan seadanya, sekarang pengen mencari suasana baru dengan berbuka di luar. Pada satu kesempatan, saya berbuka dengan teman-teman saya di sebuah restoran di bilangan Jl. Trunojoyo, Bandung. Di tempat makan itu seperti kebanyakan restoran, mereka menyediakan free ta’jil (kenapa ga sekalian free makanan yah :P). Diiringi lagu2 islami, dari jam 5 sampai maghrib saya nongkrong di sana menunggu buka, yang terdengar adalah lagu-lagu islami. Saya berpikir,”wow, hebat juga sekarang di mana-mana shopping center dan restoran nyetel lagu2 islami”.

Lambat laun, restoran tersebut mulai ramai oleh pengunjung yang ingin berbuka di sana. Jam 6 kurang sekian menit, dari pengeras suara pun dikumandangkan azan yang di-streaming dari radio lokal. Alhamdulillah, saatnya kami berbuka pada saat itu. Saya pun memakan free ta’jil tersebut hingga habis, dan setelah ngobrol-ngobrol panjang namun makanan tak kunjung tiba, saya pun ingin shalat maghrib dulu.

Naasnya, salah satu teman dari kami, Jason, bilang kalau ga ada musholla di restoran itu. Tempat shalat ada, tapi sekelilingnya kotor dan terpencil serta kecil banget, dia bilang seperti itu. Sehingga Jason pun tadi pada saat mau shalat ashar, dia shalat di mobil karena dia rasa tempat shalat yang ada tidak memadai. “Gila”, pikir saya waktu itu. Restoran bagus, musik latar yang disetel lagu islami, dapat free ta’jil pula, tapi tempat shalat ga ada?!

Saya (waktu itu juga bareng winda) pun minta diantar Jason ke tempat shalat yang dia bilang ga banget tadi. Ternyata tempat shalatnya ada di ruang loker pegawai, yang ada di ujung belakang gedung, yang cuma muat 2 buah sajadah. Lantai untuk shalat memang lebih tinggi 10 centimeter dari lantai yang lain, namun pada lantai yang lain ini terlihat jelas jejak-jejak sepatu kotor. Kalau mau wudhu pun di kamar mandi yang terletak di sebelah ruang loker tadi, dengan kondisi yang seadanya.

Mau ga mau, kami pun shalat di sana. Bayangkan yang datang berbuka di restoran itu ada hampir 100 orang, dengan waktu maghrib yang sesingkat itu, namun tempat shalat yang ada hanya muat 2 orang. Setelah saya shalat, saya melihat sekitar dan berpikir, orang sebanyak ini buka puasa pada bisa shalat ga ya?

Gimana yah, yang terpikir pada saat itu, dengan (tetap) diiringi musik latar lagu islami, ini kok orang buka puasa yang dikasih cuma free ta’jil dengan makanan-makanan enak, tapi ga dikasih fasilitas tempat shalat yang memadai, yang jelas-jelas wajib dilakukan selain membatalkan puasa.

Di kesempatan yang lain, saya sempet makan di sebuah tempat makan di daerah Dago, di sana malah azan hanya di-streaming via radio sampai lafal “Asyhadu anna muhammadarrasulullah”. Minimalis. Sekedar terdengar “Allahu Akbar”, dan berbukalah kalian, begitu pikir saya. Setelah streaming azan tadi dipotong, langsung dilanjut dengan lagu islami. Memang ada keharusan nyetel lagu islami bagus2, tapi untuk sekedar streaming azan aja dipotong dan minimalis begitu. Ckckck…

Ada lagi di tv (baca: infotainment), dapat kita lihat, banyak musisi yang berlomba-lomba membuat album rohani menyambut puasa. Di satu sisi saya menyambut baik, ah, ga apa apa lah sekali-sekali semua band membuat lagu rohani. Tapi di lain sisi, saya berpikir, “Ah, aji mumpung aja, mumpung bulan puasa, sekalian aja buat album, lumayan pasang aja satu hit single, lalu banyak orang pasang RBT dan beli album, duit pun bertambah”. Sungguh subjektif memang opini ini, tapi saya ada orang-orang di luar sana yang mempunyai pemikiran yang sama dengan opini saya ini, hehe.. Ya dimaafkan saja kalau ada yang tidak berkenan. πŸ˜›

Mungkin ini sedikit uneg-uneg saya, semoga lagu-lagu islami yang dibuat oleh musisi kita untuk menyambut bulan ini memang menjadi salah satu bentuk ibadah, bukan sekedar aji mumpung, mudah-mudahan juga tidak memadainya tempat shalat tadi bisa diperbaiki pada kesempatan yang lain. Hehe.. Dan semoga kita beribadah, karena memang kita ingin beribadah kepada-Nya, bukan kepada yang lain πŸ™‚

Cikapundung Oh Cikapundung

cikapundung

Cikapundung oh cikapundung.. Riwayatmu kini..

Mau Makan Pasta, Tapi Ogah Keluar Rumah?

Sering kali kita terjebak di keadaan lapar dan ingin makan sesuatu, namun di lain sisi kita terasa malas untuk keluar dari rumah atau kosan. Atau mungkin terkadang kita merasa bosan dengan makanan sehari-hari kita dan ingin mencoba jenis makanan lain, sebut saja pasta.

Seorang teman waktu itu mengirim pesan via ym ke gw, intinya dia memberi tahu bahwa dia membuka lapak usaha takeaway dan delivery pasta. Toko tersebut dinamakan Farfalle Pasta. Setelah itu dia memberikan link ke situsnya, kontan saja gw ingin mencoba menjelajah ke situsnya dan setelah itu mencoba menunya. Apalagi saat dia menawarkan sampel gratis kepada gw, hehehe… πŸ˜›

Setelah itu gw memesan sampel, waktu itu gw memesan spaghetti spicy tuna dan spaghetti bolognese. Dalam 30 menit, pasta hangat sudah sampai di tempat kita memesan. Didapatlah dua buah kotak styrofoam yang harum, dan di dalamnya ada sebungkus alumunium foil yang berisikan pasta pesanan gw.

Suapan pertama di spicy tuna… Enak sekali, tunanya terasa dan pedasnya pas. Rasanya pas banget di lidah dan enaaak πŸ˜€

Setelah itu gw mencoba spaghetti bolognesenya… Hmm… Enak, terasa ke-bolognese-annya. Daging cincangnya juga enak, dicampur dengan saos yang pas.

Tidak puas dengan porsi sampel yang kecil, hari ini gw memesan pasta lagi. Kali ini gw memesan Pasta Alla Szechuan dan Bolognese. Gw sekalian pengen mencoba fusilinya untuk dicampur ke saos ala szechuan. Dan rasanya… Enak banget, pedas dan gurih. Salah satu favorit gw, karena rasanya pas banget di lidah.

Dan yang membuat lebih istimewa adalah harganya yang terjangkau. Belum pernah ada pasta yang enak dengan harga yang terjangkau seperti ini. Hehe…

Sebuah pasta ukuran reguler dapat ditebus dengan kisaran harga Rp. 7.000 – Rp. 8500, tanpa ongkos kirim. Harga tergantung saos dan jenis pastanya [antara fusili dan spaghetti]. Lain lagi untuk ukuran large, dapat ditebus dengan harga Rp. 13.000 – Rp. 16.000.

Lagi-lagi gw menemukan pilihan makanan dikala gw malas keluar kosan. Hehehe… Patut dicoba. http://www.farfallepasta.com

Otomatis, Jangan Dipijit

Suatu hari di toilet PVJ…

Di sensor flush urinoir..

Tertulislah..

Otomatis, Jangan Dipijit

Baik banget ada yang mau mijitin sensor flush? LOL

Late Lunch @ Dakken

Suatu hari gw dan temen-temen mau ngopi setelah beres kuliah. Namun apa daya kantong kami menolak kami untuk minum di Starbucks, dan gw ga kurang minum kopi Ngopi Doeloe. Walhasil seorang teman menyebut satu tempat: Dakken.

Read more of this post

Ujung Genteng Trip: Perjalanan dari Bandung ke Ujung Genteng

Akhir pekan lalu saya dan beberapa teman pergi ke ujung genteng untuk berlibur. Agak aneh memang, berlibur di tengah kesibukan kuliah, namun di sini sensasinya. Di saat kita sedang berada pada puncak tekanan, sekiranya kita butuh sedikit kegiatan untuk melepaskan penat. Dan kali ini kegiatan yang dilakukan adalah pergi ke Ujung Genteng.

Read more of this post

Sunrise Watching @ Tangkuban Parahu

Baru sempet cerita, jadi hari sabtu kemaren beberapa anak2 78 [zam, adhi, dhanuz, oboy, echa, walid, rasot, bob, dan gw] pengen sahur on the road ke lembang. Ceritanya gw diajakin zam buat ke ciater, lalu turun2 sahur di lembang. Namun ternyata karena baru tau harga berendam di ciater yang cukup merogoh kantong, walhasil kita ga jadi ke ciater. Rencana berubah jadi “Sunrise Watching” di tangkuban parahu. Setau gw tangkuban parahu baru buka pagi2 jam 6, tapi walid bilang bisa masuk subuh2 asal bilang dan tetep bayar. OK, kita berangkat.

Read more of this post

Weekend DoubleShot

Weekend ini gw lewatkan dengan menonton dua film yang terbilang baru dan masih hangat di pasaran [halah]. Yaitu meet dave dan wanted

Info menarik namun ga pentingnya adalah, gw menonton kedua film ini di fX. Hehe..

Read more of this post