Susahnya Jadi Orang Tertib

Tertib. Susahnya hidup menjadi orang tertib di sekitar sistem dan lingkungan yang tidak tertib.

Bayangkan, di saat kita mencoba tertib di jalan, lihatlah ke sekitaran. Pengendara motor dan mobil tiba-tiba buta warna melihat traffic light. Merah mereka jalan, dan saat lampu hijau menyala, mereka berhenti. Pengendara yg berhenti saat lampu merah menyala mereka klakson, sungguh bodoh. Lihatlah lagi para pengendara motor, mereka terlihat begitu tidak sayang nyawa mereka. Nyalip seenak jidat, helm cuma jadi pajangan di rumah, spion pun dianggap mengganggu, sehingga tidak dipasang. Apalagi kalau sudah malam, lampu kendaraan tidak dinyalakan, mungkin mereka sudah pakai night vision goggles, jadi merasa tidak perlu menyalakan lampu. Adalagi mereka suka melawan arus, dan lebih parah, dikombo dengan tidak menyalakan lampu, ada satu ketika saya kaget ada motor di depan saya yg melawan arus dan tanpa lampu, mereka benar2 nyari mati.

Read more of this post

Pakailah HELM Jika Naik Motor, Bukan PECI -__-

Malam ini saya menemukan satu rombongan konvoi motor sebuah majelis yang sepertinya mau bersama-sama pergi ke suatu acara di senayan. Ada beberapa hal yang sangat mengganggu saya, dan pengguna jalan, serta membahayakan si anggota konvoi itu.

OK sebenarnya bukan masalah untuk saya jika ada konvoi di jalanan, tapi mbok ya tetap santun dan menghargai pengguna jalan yg lain. Semua aturan lalu lintas harus tetap dipatuhi. Termasuk hal yg paling krusial: HELM. Gambar di atas cuma menjadi ilustrasi saja, ilustrasi konvoi motor dengan pengendara yang tidak menggunkan helm, namun menggunakan peci -___-

For God sake, peci ga bakal bisa mengamankan kepala kita dari benturan (literally and physically). Please put your helmets on people! Tolong selalu pakai helm kalau naik motor. Bukan apa-apa, ini demi keamanan berkendara mereka juga. Tidak ada yg tahu kapan musibah itu datang, tidak ada juga yang mau mengalami kecelakaan, apalagi kecelakaan berlalu lintas. Dan bila kecelakaan lalu lintas itu terjadi, dan kepala kita, yang cuma berbalutkan peci, terbentur sesuatu, mau bilang apa? “Cuma bisa ikhlas” ? Tidak sama sekali.

Benar-benar merugi pengendara yang tidak mengamankan kepalanya dengan helm. Mungkin helm mahal, tapi sadarkah kita, bahwa helm yang katanya mahal itu melindungi sesuatu yang lebih mahal?

Siapa yang bisa menakar berapa tingkat kemahalan sebuah batok kepala manusia yang di dalamnya ada sebongkah otak. Dan otak adalah salah satu organ vital manusia. Tidak usah ditakar dengan rupiah pun kita bisa tahu bahwa kepala adalah barang yg sangat mahal, sampai manusia tidak bisa menakar dalam rupiah atau dollar sekalipun.

Mungkin helm dirasa merepotkan, karena berat di kepala, dan kalau mau ngobrol jadi susah karena terhalang helm, atau alasan non sense lainnya. Lebih repot mana coba, pakai helm selalu, atau recovery dari resiko yg terjadi di kepala kalau terbentur. Memar ringan masih mending, tapi kalau sampai (amit-amit) pecah?

Bukan mau menakut-nakuti, tapi saya sendiri pernah diselamatkan oleh pemakaian helm. Suatu ketika 2 tahun lalu, saya mengalami kecelakaan motor, dan helm saya mencegah saya “mencium aspal”. Walhasil setelah kecelakaan itu, saya memang mengalami beberapa luka di lutut (ligamen robek) dan luka berdarah dan lecet di sikut kanan, tapi kepala saya? amaaan.. Saya bisa melihat dengan mata kepala saya sendiri kerikil2 aspal di jalanan. Kalau saya tidak pakai helm full face misalnya, pipi saya pasti sudah ga jelas bentuknya, sukur lecet, tapi kalo robek? ampun deh..

Jadi coba dipikirkan kembali. Sedia payung sebelum hujan, bisa diterapkan pada kasus pemakaian helm ini.

Pakailah selalu HELM bagi pengendara motor. Jangan cuma buat kerusuhan aja, kalo demo atau tawuran udah rusuh, baru deh helm berguna. Nonsense.

Mau Infrastruktur dan Kualitas Kebersihan Daerah Cepat Berkembang? Ada Caranya..

OK, pertama-tama, ini bukan artikel pembangunan atau artikel serius. Tapi hanya murni opini dan pemikiran pribadi saja.

Begini ceritanya, tiba-tiba malam ini terbersitlah wacana di kepala saya, bagaimana caranya daerah-daerah di Indonesia bisa tumbuh secara cepat di bidang infrastruktur dan kebersihan. Seperti yang kita ketahui pembangunan daerah di Indonesia terpusat di Jakarta, lalu baru di medio pasca orde baru semua hal di desentralisasi. Namun mengejar ketinggalan pembangunan di daerah-daerah bukanlah hal yang mudah ditangani dan tidak bisa selesai dalam waktu yg cepat. Sedangkan di lain sisi, Jakarta sebagai pusat pemerintahan, perekonomian, dan segala hal lainnya, tetap terus mengembangkan dan membangun infrastrukturnya. Banyak proyek-proyek di Jakarta dijadikan contoh oleh daerah lain, seperti contohnya TransJakarta. Setelah busway jakarta berjalan, Jogja dan Bandung juga mengimplementasikan moda transportasi yang serupa (tapi tak sama).

Kita juga tahu bahwa bagaimana tradisi perlakuan masyarakat kita menyambut tamu agung, tamu kehormatan yang ditunggu-tunggu. Dalam hal ini mulai dari pak RT, kepala suku, pak Lurah, artis, kyai, sampai menteri dan presiden, kalau mereka bertamu ke rumah kita, tentunya kita mempersiapkan penyambutan yang terbaik. Perabotan di rumah dirapikan, lantai dibersihkan, diberi wewangian, pintu rusak diganti, dinding retak diaci kembali dan dicat ulang, sehingga terlihat ciamik.

Makin tinggi jabatannya, atau makin agung tamunya, maka makin getol persiapan yang dilakukan sang tuan rumah. Dan dalam skala daerah di Indonesia, jabatan tertinggi adalah PRESIDEN.

OK, sudah dapat idenya?

Ide gila yang saya pikirkan dan saya tuangkan di post ini adalah, jika kita mau daerah-daerah di Indonesia berkembang dari segi infrastruktur dan kebersihan terjaga, datangkan presiden ke daerah itu. Presiden harus datang ke setiap RT di Indonesia, kalau bisa rutin didatangi, sehingga presiden dapat melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana pembangunan di daerah itu.

Contoh nyata, kita mengingat kembali ke tahun 2005, saat acara 50 tahun KAA diselenggarakan di Bandung. Bandung bersih seketika. Kawasan kumuh tak bertuan disulap menjadi rapi. Trotoar menjadi manusiawi, penerangan jalan lebih ciamik. Banyak lah cerita lain yg bisa dijadikan contoh.

Kalau di tv ada acara bedah rumah yang bisa menyulap rumah menjadi ciamik dalam 12 jam yang tergolong sangat cepat, bisa-bisa di negeri ini ada acara bedah kota yg bisa menyulap kota menjadi ciamik dalam waktu yg sangat cepat.

Tidak percaya? Silakan coba jadi presiden lalu jalankan program kerja ini, mana ada pemimpin daerah yang mau “mempersembahkan” daerahnya kepada presiden dengan tampilan yg lusuh. Pasti dipermak πŸ˜›

NB: Hati-hati presidennya bisa gempor wara-wiri ke semua RT di negeri tercinta kita ini, hehe..

Embel-Embel Bimbel Bikin Bebel Jadi Bandel

Sudah lama saya tidak pernah update lagi blog ini, nah sekarang pas lagi ada waktu dan lagi ada kemauan dan opini yang disampaikan, jadi lah post ini. Pertama-tama maaf kalau judulnya terkesan kasar atau ada yg tidak berkenan, judu post ini dipilih hanya karena terbersit judul yang mempunyai rima πŸ˜›

Melihat adik dan sepupu saya yang sekarang berada di kelas XII SMA, teringat kembali masa-masa saat saya berada di posisi yang sama: kelas XII SMA. Kelas XII SMA adalah masa dimana hampir semua siswa menjadi lebih serius belajar, mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian, demi dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ada yang mempersiapkan USM ITB, UM UGM, SIMAK-UI, SNMPTN (dulu SPMB), dan lain-lain.

Dalam rangka mempersiapkan diri, banyak siswa, atau bisa dibilang hampir semua siswa mengikuti bimbingan belajar, di samping pendidikan formal di sekolah. Bimbingan belajar dewasa ini makin menjadi “trend” bagi para siswa yang mau masuk ke perguruan tinggi. Ada yang makin berani memasang program jaminan, siswa yang mengikuti program jaminan tersebut dijamin lolos ujian seleksi (biasanya SNMPTN), kalau tidak lolos, maka uang jaminan tersebut dikembalikan.

Tren ini disikapi secara bermacam-macam oleh berbagai pihak, ada sekolah yang menggandeng pihak bimbingan belajar, agar siswa dapat mengikuti langsung bimbingan belajar di sekolah, seperti pendalaman materi. Yang pasti, atau hampir pasti, kebanyakan siswa sudah dapat dipastikan saat naik ke kelas XII, hal yang dicari selanjutnya adalah bimbingan belajar.

Kembali ke pengamatan saya terhadap adik dan sepupu saya, terlihat bahwa mereka sangat serius, mungkin sampai hampir stress, mengerjakan latihan soal. Pergi ke toko buku untuk membeli buku-buku latihan soal. Sebagai informasi, adik dan sepupu saya juga sedang mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Kalau dulu saya menganggap bahwa bimbingan belajar dapat membantu saya mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian seleski masuk, jadi 1 bimbel saja cukup, tapi sekarang saya baru tahu bahwa banyak siswa yang sampai mengikuti lebih dari 1 bimbel. Maksudnya di sini lebih dari 1 bimbel dengan field yang sama, kan memang ada yang mengikuti bimbel untuk pelajaran IPA, ditambah bimbel untuk gambar, contohnya untuk siswa-siswa yang ingin masuk seni rupa atau arsitektur.

“Gila, satu aja ga cukup?”, pikir saya. Apa memang faktor kepercayaan diri kita yang kurang sehingga “the more bimbel we take, the more confident we have”. Atau benar-benar tren bimbel ini sudah menjerumus pemikiran siswa-siswa bahwa “lo ga bakal sukses kalo lo ga ikut bimbel kita”, sampai ada siswa yang mengikuti lebih dari 1 bimbel?

Bahkan adik saya sempat bertanya, “bimbel B bagus ga?”.

Saya menjawab, “waduh, ga tau deh, emangnya kenapa? kan kamu udah ikut bimbel A?”

Adik saya berkata, “hoo.. soalnya bimbel A ini persiapan untuk ujian X kurang, terlalu Y minded. Kayaknya bimbel B lebih fokus ke sana…”

Waduh, saya jadi bingung menyikapinya. Saya mengerti dan pernah merasakan pula, bahwa kelas XII di bulan-bulan ini memang saatnya stress mulai memuncak, hal yang baru, semua orang jadi rajin ke mesjid sekolah saya dulu. Istirahat datang ke mesjid shalat dhuha. Saat siang datang ke mesjid, menunggu azan zuhur, lalu langsung shalat zuhur.

Tidak salah memang kalau kita mengambil lebih dari 1 bimbel, in order to make ourselves be more confident to face the test, why not?

Now it’s time for the student to strive to the best, so that they can achieve the dream that they have dreamed about.

Go get your dream, bro πŸ™‚

Puasa Sekedar Strategi Pemasaran?

Pertama-tama, maafkan saya jika judulnya terkesan “keras” ataupun sok pinter, tapi ini yang saya rasakan akhir-akhir ini. Kedua, post ini tidak ada hubungannya dengan ilmu pemasaran ataupun ekonomi ataupun ilmu-ilmu lainnya, apalagi kalau ilmu hitam, hehe..

Begini ceritanya, beberapa kali saya berbuka puasa di tempat makan, let’s say restoran dan semacamnya. Karena dari tahun ke tahun biasanya buka di kosan dengan seadanya, sekarang pengen mencari suasana baru dengan berbuka di luar. Pada satu kesempatan, saya berbuka dengan teman-teman saya di sebuah restoran di bilangan Jl. Trunojoyo, Bandung. Di tempat makan itu seperti kebanyakan restoran, mereka menyediakan free ta’jil (kenapa ga sekalian free makanan yah :P). Diiringi lagu2 islami, dari jam 5 sampai maghrib saya nongkrong di sana menunggu buka, yang terdengar adalah lagu-lagu islami. Saya berpikir,”wow, hebat juga sekarang di mana-mana shopping center dan restoran nyetel lagu2 islami”.

Lambat laun, restoran tersebut mulai ramai oleh pengunjung yang ingin berbuka di sana. Jam 6 kurang sekian menit, dari pengeras suara pun dikumandangkan azan yang di-streaming dari radio lokal. Alhamdulillah, saatnya kami berbuka pada saat itu. Saya pun memakan free ta’jil tersebut hingga habis, dan setelah ngobrol-ngobrol panjang namun makanan tak kunjung tiba, saya pun ingin shalat maghrib dulu.

Naasnya, salah satu teman dari kami, Jason, bilang kalau ga ada musholla di restoran itu. Tempat shalat ada, tapi sekelilingnya kotor dan terpencil serta kecil banget, dia bilang seperti itu. Sehingga Jason pun tadi pada saat mau shalat ashar, dia shalat di mobil karena dia rasa tempat shalat yang ada tidak memadai. “Gila”, pikir saya waktu itu. Restoran bagus, musik latar yang disetel lagu islami, dapat free ta’jil pula, tapi tempat shalat ga ada?!

Saya (waktu itu juga bareng winda) pun minta diantar Jason ke tempat shalat yang dia bilang ga banget tadi. Ternyata tempat shalatnya ada di ruang loker pegawai, yang ada di ujung belakang gedung, yang cuma muat 2 buah sajadah. Lantai untuk shalat memang lebih tinggi 10 centimeter dari lantai yang lain, namun pada lantai yang lain ini terlihat jelas jejak-jejak sepatu kotor. Kalau mau wudhu pun di kamar mandi yang terletak di sebelah ruang loker tadi, dengan kondisi yang seadanya.

Mau ga mau, kami pun shalat di sana. Bayangkan yang datang berbuka di restoran itu ada hampir 100 orang, dengan waktu maghrib yang sesingkat itu, namun tempat shalat yang ada hanya muat 2 orang. Setelah saya shalat, saya melihat sekitar dan berpikir, orang sebanyak ini buka puasa pada bisa shalat ga ya?

Gimana yah, yang terpikir pada saat itu, dengan (tetap) diiringi musik latar lagu islami, ini kok orang buka puasa yang dikasih cuma free ta’jil dengan makanan-makanan enak, tapi ga dikasih fasilitas tempat shalat yang memadai, yang jelas-jelas wajib dilakukan selain membatalkan puasa.

Di kesempatan yang lain, saya sempet makan di sebuah tempat makan di daerah Dago, di sana malah azan hanya di-streaming via radio sampai lafal “Asyhadu anna muhammadarrasulullah”. Minimalis. Sekedar terdengar “Allahu Akbar”, dan berbukalah kalian, begitu pikir saya. Setelah streaming azan tadi dipotong, langsung dilanjut dengan lagu islami. Memang ada keharusan nyetel lagu islami bagus2, tapi untuk sekedar streaming azan aja dipotong dan minimalis begitu. Ckckck…

Ada lagi di tv (baca: infotainment), dapat kita lihat, banyak musisi yang berlomba-lomba membuat album rohani menyambut puasa. Di satu sisi saya menyambut baik, ah, ga apa apa lah sekali-sekali semua band membuat lagu rohani. Tapi di lain sisi, saya berpikir, “Ah, aji mumpung aja, mumpung bulan puasa, sekalian aja buat album, lumayan pasang aja satu hit single, lalu banyak orang pasang RBT dan beli album, duit pun bertambah”. Sungguh subjektif memang opini ini, tapi saya ada orang-orang di luar sana yang mempunyai pemikiran yang sama dengan opini saya ini, hehe.. Ya dimaafkan saja kalau ada yang tidak berkenan. πŸ˜›

Mungkin ini sedikit uneg-uneg saya, semoga lagu-lagu islami yang dibuat oleh musisi kita untuk menyambut bulan ini memang menjadi salah satu bentuk ibadah, bukan sekedar aji mumpung, mudah-mudahan juga tidak memadainya tempat shalat tadi bisa diperbaiki pada kesempatan yang lain. Hehe.. Dan semoga kita beribadah, karena memang kita ingin beribadah kepada-Nya, bukan kepada yang lain πŸ™‚

Fail!

Sabtu kemarin setelah sahur saya langsung berangkat ke jakarta dari bandung menggunakan x-trans, karena jam 8 saya sudah harus ada di jakarta untuk ujian les bahasa jerman di goethe jakarta. Sekita jam 4.30 saya sampai di bumi x-trans di cihampelas, membayar tiket, lalu menunggu keberangkatan di ruang tunggunya.

Di kursi tunggu tergeletak koran pikiran rakyat hari jumat kemarinnya, lalu saya baca sejenak. Berita yang diwartakan masih berkisar tentang gempa bumi tasikmalaya. Lalu saya bolak balik ke halaman-halaman selanjutnya. Dan.. Pada surat pembaca saya melihat sebuah ilustrasi berukuran besar pada sebuah surat pembaca, sungguh disayangkan mereka dengan percaya diri salah menentukan antara mana yang merpakan kata depan dan mana yang merupakan imbuhan.. Padahal koran tersebut termasuk koran yang besar di jawa barat..

Uneg-Uneg Tentang Pemilu

Bagus! Gw ga terdaftar di DPT (Daftar Pemilih Tetap) pemilu legislatif tahun ini. Dan (sedikit) keinginan gw untuk golput menjadi halal. Hehe…

Ada banyak uneg-uneg yang ada di kepala gw tentang pemilu legislatif kali ini, mulai dari DPT yang ga mutakhir, partai yang seabrek abrek, dan caleg yang lebih seabrek abrek lagi. Namun kali ini gw mau membahas sebuah uneg-uneg lain, bisa dibilang usul, tentang bagaimana cara sosialisasi caleg untuk pemilu berikutnya [jika sistem contreng caleg masih dipakai].

Portal caleg terpusat. Mungkin itu kira-kira nama yang bisa menggambarkan uneg-uneg gw. Jadi gw punya bayangan, “coba ada sebuah portal internet yang mencakup informasi tentang semua caleg dari tingkat DPRD II, DPRD I dan DPR dari semua partai dan dari semua daerah pemilihan (dapil) di Indonesia, serta semua calon anggota DPD dari semua daerah tingkat I di Indonesia?”.

Dari ide ini bisa dibayangkan user dapat mencari mulai dari foto caleg, visi misi caleg, CV (agar bisa melihat track record dan sejarah hidup dari sang caleg), bisa juga dimasukkan link facebook, blog feed dari sang caleg, link ke URL nya, mungkin juga pada portal itu disediakan fasilitas blog, sehingga sang caleg bisa ngeblog di sana.

Dan kesemua fitur-fitur utama di atas punya satu tujuan: Mengenali lebih dalam sang caleg. Para pemilih juga bisa mengetahui caleg mana yang pantas, secara cerdas, untuk dipilih. Yang sekarang terjadi adalah, syukur-syukur kita tau visi misinya, di baligo-baligo besar yang mengkampanyekan caleg hanya berisikan foto dan nama serta nomor dan lambang partainya.

Lain lagi jika sang caleg adalah saudara dari artis A, pasti artis A itu dipampang juga di baligonya. Malah ada foto Obama di baligo kampanye caleg. Hehehehe…

Mungkin uneg-uneg lainnya adalah dengan menggunakan sistem IT terpusat untuk pemilihan, sehingga bisa diterapkan paperless election (wow, pasti ini masih lama bisa diimplementasiin di negara kita ini) :P. Tapi mungkin ide pembuatan portal informasi caleg terpusat ini dapat dibilang feasible, ya resiko terbesar sepertinya di penanganan data dan konten yang banyak dan keamanan dari sistem πŸ˜›

Karena semakin hari orang semakin haus informasi, dan cara mendapatkan informasi yang mudah dan cukup murah (semoga cost untuk akses internet makin murah) adalah Internet. πŸ˜€

Bahasa Indonesia dan Pemakaiannya

Sebelumnya saya ingin menekankan bahwa ini adalah pandangan saya pribadi sebagai seorang mahasiswa yang tidak, atau kurang, punya kompetensi cukup untuk mengomentari hal ini secara ilmiah. Ini hanyalah pandangan secara subjektif, apa yang saya rasakan, maka saya tuliskan di sini.

Dewasa ini masyarakat sudah mulai mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa asing dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Tentu dalam konteks pembicaraan non-formal alias bahasa gaul, hal ini tidak menjadi suatu masalah yang signifikan. Namun jika pemakaian bahasa campur aduk ini dibawa ke dalam sebuah forum formal, kuliah misalkan, ataupun bahasa dalam surat kabar, maka fenomena ini menjadi suatu permasalahan yang cukup serius. Jika kita menilik apa penyebab utama mengapa fenomena ini terjadi adalah kebiasaan bangsa Indonesia pada umumnya yang mengagungkan semua hal yang berbau internasional, luar negeri, atau dapat dibilang berbau barat. Dengan kata lain, secara kasar bangsa Indonesia kurang bangga dengan bahasanya dan budayanya sendiri. Pemakaian bahasa dan budaya asing dirasa lebih keren dan dapat diterima dalam pergaulan. Sekali lagi, jika digunakan pada konteks pergaulan sehari-hari hal ini tidak menjadi suatu masalah serius, namun yang disayangkan adalah jika hal ini terjadi pada sebuah forum ilmiah, media massa, kuliah, seminar dan forum formal lain.

Read more of this post

Antara Menang dan Kalah

Kali ini saya ingin menyorot sisi lain dari kemenangan Barack Obama sebagai presiden AS ke 44, dan kekalahan John McCain. Seperti yang diketahui, Obama memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat yang diselenggarakan 4 November 2008 kemarin. Canggihnya, hanya berselang satu hari, keputusan final dari pemilu ini sudah dapat diumumkan.

Read more of this post

Tiara Express: Naik Alphard Bisa Patungan

Akhirnya silver bird punya saingan baru. Meet Tiara Express!

tiaraexpress

Express Group meluncurkan armada taksi Tiara Express. Taksi ini melengkapi jejeran taksi mewah. Menariknya kendaraan yang dipakainya adalah Toyota Alphard 2.4L yang kita semua tahu bentuk rupa dan juga harga mobil tersebut. Menurut kompas, tiara express mempunyai 45 unit taksi untuk saat ini. Memang taksi mewah yang ditargetkan bagi pasar menengah atas. [Pasar bule termasuk menengah atas ga sih?]

Read more of this post