Fail!

Sabtu kemarin setelah sahur saya langsung berangkat ke jakarta dari bandung menggunakan x-trans, karena jam 8 saya sudah harus ada di jakarta untuk ujian les bahasa jerman di goethe jakarta. Sekita jam 4.30 saya sampai di bumi x-trans di cihampelas, membayar tiket, lalu menunggu keberangkatan di ruang tunggunya.

Di kursi tunggu tergeletak koran pikiran rakyat hari jumat kemarinnya, lalu saya baca sejenak. Berita yang diwartakan masih berkisar tentang gempa bumi tasikmalaya. Lalu saya bolak balik ke halaman-halaman selanjutnya. Dan.. Pada surat pembaca saya melihat sebuah ilustrasi berukuran besar pada sebuah surat pembaca, sungguh disayangkan mereka dengan percaya diri salah menentukan antara mana yang merpakan kata depan dan mana yang merupakan imbuhan.. Padahal koran tersebut termasuk koran yang besar di jawa barat..

Bahasa Indonesia dan Pemakaiannya

Sebelumnya saya ingin menekankan bahwa ini adalah pandangan saya pribadi sebagai seorang mahasiswa yang tidak, atau kurang, punya kompetensi cukup untuk mengomentari hal ini secara ilmiah. Ini hanyalah pandangan secara subjektif, apa yang saya rasakan, maka saya tuliskan di sini.

Dewasa ini masyarakat sudah mulai mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa asing dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Tentu dalam konteks pembicaraan non-formal alias bahasa gaul, hal ini tidak menjadi suatu masalah yang signifikan. Namun jika pemakaian bahasa campur aduk ini dibawa ke dalam sebuah forum formal, kuliah misalkan, ataupun bahasa dalam surat kabar, maka fenomena ini menjadi suatu permasalahan yang cukup serius. Jika kita menilik apa penyebab utama mengapa fenomena ini terjadi adalah kebiasaan bangsa Indonesia pada umumnya yang mengagungkan semua hal yang berbau internasional, luar negeri, atau dapat dibilang berbau barat. Dengan kata lain, secara kasar bangsa Indonesia kurang bangga dengan bahasanya dan budayanya sendiri. Pemakaian bahasa dan budaya asing dirasa lebih keren dan dapat diterima dalam pergaulan. Sekali lagi, jika digunakan pada konteks pergaulan sehari-hari hal ini tidak menjadi suatu masalah serius, namun yang disayangkan adalah jika hal ini terjadi pada sebuah forum ilmiah, media massa, kuliah, seminar dan forum formal lain.

Read more of this post

Disimpan di Lemari?

Yah, kali ini judulnya agak maksa. Tapi topik pembahasan kali ini berhubungan sama aturan penulisan kalimat judul di atas.

Gw suka gatel dan gregetan deh kalo ada orang yang ngetik (maklum, gw suka melapuk di internet) dengan aturan penulisan yang gw pernah pelajari bahwa gaya tulisan tersebut salah. Walaupun gw juga nulis2 di internet (entah di blog, forum, ataupun YM) dengan gaya bahasa percakapan sehari-hari (baca: ga formal), tapi gw suka ga bisa menolerir orang yang menuliskan awalan kata yang dipisah. Entah mengapa, walaupun bahasa yang dipakai orang itu (misal) ga formal seperti gaya penulisan gw sekarang, tapi saat dia menuliskan “di atur” atau “di jual”, kontan gw jadi gregetan. Duh, salah ni nulisnya. Awalan tu disambung sama kata induknya, sedangkan kata depan tu baru dipisah.

Read more of this post