Gara-Gara Bola

poster Hari selasa kemarin saya diajak untuk menonton film Gara-Gara Bola di blitz megaplex PVJ. Film ini bercerita tentang dua sahabat, Ahmad (Winky Wiryawan) dan Heru (Herjunot Ali) yang merupakan penggemar sepakbola dan ngekos di tempat yang sama. Heru dan Ahmad punya satu kegemaran saat ada piala dunia 2006: judi bola.

Read more of this post

Advertisements

Laskar Pelangi

poster “Hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya”

Inilah quote dari film laskar pelangi yang paling gw inget karena emang diulang-ulang sama pak harfan. Akhirnya salah satu film yang ditunggu-tunggu penonton Indonesia, terbukti dari begitu panjangnya antrean pembeli tiket bahkan sebelum loket tiket Ciwalk XXI dibuka, premiere hari Kamis, 24.09.08. Film ini menurut gw fenomenal, karena gw udah lama ga ngeliat orang ngantri panjang dan hectic untuk sebuah film Indonesia. Hal ini mengingatkan gw pada antrean film AADC, petualangan sherina, dan beberapa film Indonesia lainnya.

Read more of this post

The Tarix Jabrix: Geng Motor Teladan

Again. Film komedi ringan muncul di pasaran. Dibanding film horor padahal [denger2] isinya adegan panas, ato film komedi padahal [denger2 lagi] isinya macam komedi nakal, film ini boleh lah jadi segelintir film yang ga ikut trend [trend? bisa dibilang trend yah?].

Read more of this post

Automatically Romantic

Otomatis Romantis dalam bahasa Indonesianya. Sebuah film komedi yang dibintangi Tora Sudiro, Too Cool (a.k.a. Tukul Arwana), Marsha Timothy, Wulan Guritno, Tarzan, Dwi Sasono, dll., menceritakan tentang kisah seorang Nadia (Marsha Timothy) yang mencari cinta. Karena pada umurnya yang ke-29, Ayahnya (Tarzan) mendorong Nadia untuk segera mencari pendamping hidupnya. Nadia yang merupakan seorang pemimpin redaksi dari majalah Wanita Kini, merupakan sosok wanita karir yang getol dalam bekerja, namun masih jomblo. Dibandingkan dengan kakak Nadia, Nabila (Wulan Guritno) yang sudah mempunyai seorang putri, Aurel, dari suaminya Dave (Tukul) [gila, gw kaget ternyata Tukul jadi orang ketajiran dan songong minta ampun! Hehehe..] dan adik Nadia, Nana (Poppy Sovia) yang sudah punya cowo [yah walaupun..].

Cerita berlanjut di saat sosok Bambang Setiadi (Tora Sudiro) muncul sebagai petugas Administrasi kantor majalah itu. Berasal dari jogja, dengan logat yang kental dan pengalamannya menulis di artikel majalah pertanian, Bambang memberanikan diri bertemu dengan Nadia dan mengajukan diri agar dapat menulis sebuah artikel pada majalah yang dipimpin Nadia tersebut. Awalnya Nadia sangat men-deny sosok Bambang ini, menganggapnya rendah, dan tak lebih dari seorang bawahan, petugas administrasi tepatnya. Namun, karena Bambang yang sering muncul di ruangan redaksi, membuatnya cukup tenar di kantornya, karena dia dipanggil oleh redaksi fashion yang menyuruh dia menjadi model dadakan.

Nadia pun mulai mencoba mengenal sosok Bambang ini, awalnya karena tuntutan bahwa Bambang dipesan oleh sang pemasang iklan untuk menjadi model pada iklannya, tetapi pada akhirnya, Nadia pun jatuh hati pada pemuda aseli Jogja ini. Banyak keadaan dan kejadian-kejadian yang membuat mereka harus bersama, dan membuat Nadia benar-benar suka dengan Bambang. Tetapi pada saat puncaknya, tak diduga Bambang mengatakan kepada Nadia bahwa ia ingin menikahi Ratna, kekasih Trisno (Dwi Sasono), kakak Bambang.

Bagaimana kelanjutannya?
Bisa segera ditontonlah film drama komedi ini. Karena pada saat gw menonton pada keesokan hari setelah gw nonton Radit Dan Jani, gw merasa ga rugi nonton di Ciwalk XXI pada hari Sabtu yang notabene harga tiketnya 25.000, bukan 15.000 seperti biasanya.. Hehehehe.. Kocak banget ni film.

Radit Dan Jani

Tanggal 25 Januari lalu tepat hari kedua pemutaran film Radit Dan Jani yang dibintangi oleh Vino G. Bastian dan Fahrani. Gw, ume dan dede menyempatkan diri menonton film itu, yang merupakan suatu ketibatibaan alias mendadak. Hehe.. Kenapa? Karena awalnya kami ingin menonton Automatically Romantic alias Otomatis Romantis yang dibintangi oleh Tora Sudiro, Marsya Timothy, Tukul, Wulan Guritno, Tarzan, dll. Tetapi pada saat kami sampai di depan loket, ternyata film Radit Dan Jani yang cukup ditunggu dede sudah keluar, akhirnya kita jadi nonton Radit Dan Jani.

Film ini menceritakan tentang kisah cinta seorang Radit (Vino G. Bastian), seorang musisi yang menunggu demo tape-nya diterima label, dengan istrinya Anjani a.k.a. Jani (Fahrani). Fokus cerita ada pada bagaimana pasangan muda ini mengarungi hidup dengan segala kesusahan, kesedihan, kesenangan, denial, dan problematika finansial. Radit adalah seorang musisi yang suka menggunakan jaket kulit khas rocker pisan, dengan ketergantungannya atas narkotika dan attitude yang kurang baik. Sedangkan Jani adalah seorang perempuan yang sangat setia kepada Radit, membantu Radit (his partner in crime), dan berasal dari keluarga yang sejahtera, punya Ayah yang tidak terima dengan kondisi Radit yang tidak punya pekerjaan tetap, lalu dia punya Ibu yang sangat mengkhawatirkan anak sulungnya itu, dan punya adik yang tergambar cukup pintar dan geek.

Jalannya cerita sangat terfokus pada pasangan muda ini, tidak melebar kemana-mana dengan tokoh yang banyak. Film ini juga fokus dalam menggambarkan kesulitan mereka mengarungi kehidupan. Jani juga digambarkan sangat “terbius” oleh Radit. Jika ada suatu momentum kesedihan [hoek, bahasanya..], dimana mereka berdua menangis berjamaah, Radit yang berpikir dia tidak dapat membahagiakan Jani tetap ingin membuat dirinya menjadi satu-satunya orang yang dapat membahagiakan hidup Jani dengan mengatakan, “Suatu hari nanti.. Kita akan punya uang blablabla…”. Dan Jani pun “luluh” dengan janji dan harapan Radit. Sungguh suatu kelangkaan dimana seorang perempuan sangat sabar dan setia dalam menghadapi kehidupan yang sangat sulit.

Menurut gw ide cerita dan moral dari cerita film ini baik, namun gw merasa alur film ini terasa datar, alur yang lamban membuat ngantuk, dan sedikit diulang-ulang sampai gw bosan sendiri, karena inti permasalahannya adalah datarnya film tersebut. Baru pada saat cerita mencapai klimaks dimana permasalahan mereka mulai kompleks dan Radit mulai menyadari bahwa “he’s not the right person for her”, baru gw merasakan dinamika dari cerita ini. Sedih memang melihat keadaan mereka yang seperti tergambarkan adegan per adegan, sehingga membuat para penonton lain, terutama yang cw, ikut sedih, menangisi keadaan mereka, minimal mata mereka berkaca-kaca.

Tapi kalo buat gw dan dede? Gw menganggap tangisan di film itu adalah tangisan generasi sinetron, hehe.. No offence..

Coba film ini bisa lebih memainkan emosi penonton dan menyuguhkan dinamika, tentu kesedihan kehidupan mereka akan lebih mengena di hati para penonton. By the way, film ini tergolong unik.

Kawin Kontrak

Satu lagi film Indonesia terbaru yang baru gw tonton kemaren: Kawin Kontrak. Sebuah film komedi yang menceritakan 3 anak ABG, Jody, Dika dan Rama, yang baru lulus SMA. Mereka merencanakan suatu ‘perburuan’ ke sebuah desa Suka Sararean untuk mencari kembang desa untuk dikawinkontrakkan (ada ya bahasa dikawinkontrakkan? hehe..).

Mereka sudah menyiapkan ‘alat’ tempur, dari Cialis, viagra, pecut sampai karet gelang agar bisa berperang dengan kontrakkannya. Setelah bertemu dengan agennya, kang sono (Lukman Sardi, wuih, keren lah actingnya), dan berkeliling ke desa sukasararean, Jody (Ricky Harun) yang memilih Euis si janda kembang yang… wow.. berani. [gila,, berani banget ni film.. hehe..], lalu Dika (Herichan, mirip Echa loh :P) yang memilih mengontrak, ups, kawin kontrak sama Rani (Masayu Anastasia), dan Rama (Dimas Aditya) yang mengejar-ngejar Isa (Dinda Kanyadewi).

Lalu cerita berlanjut dan menghasilkan ‘pesan moral’ bahwa kawin kontrak itu juga ga bagus buat dilakukan.

Ceritanya kocak dan emang diambil dari fenomena yang ada. Tempat syutingnya pun katanya merupakan tempat kawin
kontrak sebenarnya. Waduh ga tau juga sih bener apa nggak. Tapi yang pasti gw suka pemandangan alam yang disuguhkan di film itu. Sawah dengan padi menguning di hamparan lembah, burung2 yang terbang bebas, rumput yang menari ditiup hembusan angin, dan kincir air yang berputar mengatur irigasi sawah sekitarnya. Actingnya memang terkesan cukup2 saja, tapi gw salut sama Lukman Sardi yang bener2 bisa membawakan perannya di satu film ke film lain. Dari 9 Naga, Pesan dari Surga, Nagabonar Jadi 2, Quickie Express, lalu film ini.

Tapi ada poin baru dari film ini, yaitu adegan-adegan yang mulai vulgar. Mulai ini ini sampai itu [ya lengkapnya bisa ditonton aja]. Lalu juga nilai minus dari film ini adalah jalan cerita yang mudah tertebak dan kebetulan-kebetulan yang dipaksakan ala sinetron untuk menyelesaikan suatu masalah. Di film ini tiba2 datang seseorang dengan gerombolan polisi yang datang tepat waktu untuk menyelesaikan simpul masalah. Singkat kata seperti itu, dipaksakan.

Film ini termasuk komedi sensual nan ringan. Cocok buat ditonton rame2an sama temen2, biar bisa ketawa lepas. Hehehe..

Dan gw masih menunggu keluarnya Ayat Ayat Cinta…

Review Subjektif : Get Married

Senin ini akhirnya saya baru menyempatkan diri untuk menonton film “Get Married” yang dibintangi 4 bintang kocak, yaitu Nirina, Ringgo, Aming dan Desta. Film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo [sounds familiar? itu loh,, sutradara film Jomblo juga..] dan ditulis oleh Musfar Yasin [dia nulis film Nagabonar Jadi 2 juga].

Tersebutlah 4 orang sahabat yang frustasi, Mae [Nirina], Beni [Ringgo], Guntoro [Desta] dan Eman [Aming], karena menghadapi hidup yang tidak sesuai dengan cita-cita mereka dulu. Mae adalah lulusan akademik sekretaris, padahal dia ingin menjadi polwan [polisi wanita]. Beni adalah sempat belajar tanam-menanam tanaman [bukan tanam-menanam duit ato saham, hehe], padahal dia ingin menjadi seorang petinju. Lalu ada Guntoro yang ingin menjadi pelaut, tapi malah belajar komputer. Dan akhirnya ada Eman yang ingin menjadi politikus tapi malah dimasukin pesantren sama orang tuanya biar jadi kyai.

Film ini bercerita tentang perjuangan Mae untuk mendapatkan suami karena si ibunya [Meriam Bellina] dan bapaknya [Jaja Miharja] menyuruh dia untuk segera menikah. Orang tua Mae berusaha menjodohkannya dengan cowo kampung sebelah, tetapi calon-calon suami ini tidak pernah digubris oleh Mae, malahan dikerjain oleh 3 orang sahabatnya. Lalu alkisah datanglah seorang pangeran berwajah tampan berdompet tebal bernama Rendy [Richard Kevin] menghampiri dan bertemu oleh Mae. Mae pun sumringah tak tertahankan. Di saat itulah lagu “Pandangan Pertama” diputar dan sekonyong-konyong mereka berdua jatuh cinta pada pandangan ke-N [dimana N=1].

Namun terjadi suatu kesalahpahaman antara Mae dan ketiga sahabatnya ini. Yang berujung pada keogahan Rendy untuk menghampiri Mae kembali. Masalah lalu bertambah pada saat ibu Mae jatuh sakit dan meminta Mae untuk segera mencari pendamping hidup. Dan cerita pun berlanjut, ingin tahu lanjutannya? Silakan menonton di bioskop kesayangan Anda!

Film beraliran komedi ini bukan cuma komedi yang menawarkan lelucon ringan. Penonton dijamin tertawa oleh aksi dari para pemerannya, tetapi juga ada banyak kritik sosial yang terkandung di dalamnya. Sebagian besar dari kritik sosial itu saya juga setuju, namun ada satu adegan yang mengganjal, saat tersebutlah statement dari temannya Rendy yang bilang  “Lo seh, dah kelamaan di State. Lo lupa cara Indonesia”. Adegan ini muncul ketika teman-teman sekomplek Rendy ingin membalas serangan yang dilakukan ketiga sahabat Mae kepada Rendy.

Lalu adegan berlajut dan menggambarkan bahwa “cara Indonesia” yang dimaksud adalah cara primitif : Kekerasan. Di sini saya lihat dari sudut pandang Rendy, Rendy adalah seorang yang anti kekerasan. Saya pun melihat bahwa sang pembuat film ingin memberi kritik bahwa, “liat dong,, masa cara Indonesia kayak gini?!”. Tapi dari penggambaran adegan yang ada, sang pembuat film gagal membawa kesadaran bahwa kekerasan bukanlah jalan keluar. Malah hanya ingin memperlihatkan adegan baku hantam yang terlihat masif dan realistis.

Mungkin sang pembuat film lupa bahwa film atau sinetron atau apapun yang ditayangkan entah di layar kaca atau layar perak atau layar emas bahkan layar tancap sampai layar LCD serta layar plasma HDTV sekalipun, akan membawa dampak positif dan negatif. Para penonton bisa mendapatkan inspirasi atau meniru dari sesuatu yang mereka tonton.

Kembali ke film tadi.
Secara keseluruhan film ini adalah film yang lucu dan dapat mengundang penonton tertawa [ada loh film lucu tapi ga bikin yang nonton ketawa, hehehe]. Film ini juga bernilai pesan2 dan kritik. Ending yang.. hmm.. Coba tonton sendiri dan kasih komentar. Yang pasti, film ini unik. Karena ga ikut trend2 film horor sampah khas indonesia. Hehehe…