Sudah lama saya tidak pernah update lagi blog ini, nah sekarang pas lagi ada waktu dan lagi ada kemauan dan opini yang disampaikan, jadi lah post ini. Pertama-tama maaf kalau judulnya terkesan kasar atau ada yg tidak berkenan, judu post ini dipilih hanya karena terbersit judul yang mempunyai rima
Melihat adik dan sepupu saya yang sekarang berada di kelas XII SMA, teringat kembali masa-masa saat saya berada di posisi yang sama: kelas XII SMA. Kelas XII SMA adalah masa dimana hampir semua siswa menjadi lebih serius belajar, mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian, demi dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ada yang mempersiapkan USM ITB, UM UGM, SIMAK-UI, SNMPTN (dulu SPMB), dan lain-lain.
Dalam rangka mempersiapkan diri, banyak siswa, atau bisa dibilang hampir semua siswa mengikuti bimbingan belajar, di samping pendidikan formal di sekolah. Bimbingan belajar dewasa ini makin menjadi “trend” bagi para siswa yang mau masuk ke perguruan tinggi. Ada yang makin berani memasang program jaminan, siswa yang mengikuti program jaminan tersebut dijamin lolos ujian seleksi (biasanya SNMPTN), kalau tidak lolos, maka uang jaminan tersebut dikembalikan.
Tren ini disikapi secara bermacam-macam oleh berbagai pihak, ada sekolah yang menggandeng pihak bimbingan belajar, agar siswa dapat mengikuti langsung bimbingan belajar di sekolah, seperti pendalaman materi. Yang pasti, atau hampir pasti, kebanyakan siswa sudah dapat dipastikan saat naik ke kelas XII, hal yang dicari selanjutnya adalah bimbingan belajar.
Kembali ke pengamatan saya terhadap adik dan sepupu saya, terlihat bahwa mereka sangat serius, mungkin sampai hampir stress, mengerjakan latihan soal. Pergi ke toko buku untuk membeli buku-buku latihan soal. Sebagai informasi, adik dan sepupu saya juga sedang mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Kalau dulu saya menganggap bahwa bimbingan belajar dapat membantu saya mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian seleski masuk, jadi 1 bimbel saja cukup, tapi sekarang saya baru tahu bahwa banyak siswa yang sampai mengikuti lebih dari 1 bimbel. Maksudnya di sini lebih dari 1 bimbel dengan field yang sama, kan memang ada yang mengikuti bimbel untuk pelajaran IPA, ditambah bimbel untuk gambar, contohnya untuk siswa-siswa yang ingin masuk seni rupa atau arsitektur.
“Gila, satu aja ga cukup?”, pikir saya. Apa memang faktor kepercayaan diri kita yang kurang sehingga “the more bimbel we take, the more confident we have”. Atau benar-benar tren bimbel ini sudah menjerumus pemikiran siswa-siswa bahwa “lo ga bakal sukses kalo lo ga ikut bimbel kita”, sampai ada siswa yang mengikuti lebih dari 1 bimbel?
Bahkan adik saya sempat bertanya, “bimbel B bagus ga?”.
Saya menjawab, “waduh, ga tau deh, emangnya kenapa? kan kamu udah ikut bimbel A?”
Adik saya berkata, “hoo.. soalnya bimbel A ini persiapan untuk ujian X kurang, terlalu Y minded. Kayaknya bimbel B lebih fokus ke sana…”
Waduh, saya jadi bingung menyikapinya. Saya mengerti dan pernah merasakan pula, bahwa kelas XII di bulan-bulan ini memang saatnya stress mulai memuncak, hal yang baru, semua orang jadi rajin ke mesjid sekolah saya dulu. Istirahat datang ke mesjid shalat dhuha. Saat siang datang ke mesjid, menunggu azan zuhur, lalu langsung shalat zuhur.
Tidak salah memang kalau kita mengambil lebih dari 1 bimbel, in order to make ourselves be more confident to face the test, why not?
Now it’s time for the student to strive to the best, so that they can achieve the dream that they have dreamed about.
Go get your dream, bro
Recent Comments